Termasuk DOSA BESAR: tidak menutup aurat

Menjadi PERINGATAN PENTING bagi saudariku sesama muslim, yang masih mengobral auratnya… Baik yang tidak menutup auratnya (tidak berjilbab sama sekali), atau yang menutup auratnya “setengah-setengah”1

Allaah MEMERINTAHKANMU untuk MENUTUP AURATMU!

Mungkin saja belum tahu bahwa Allaah –Tuhan mereka, yang menciptakan mereka, yang berhak mengatur mereka karena mereka adalah ciptaanNya– telah MEWAJIBKAN mereka untuk menutup aurat-aurat mereka…

Maka dengan ini kami ingatkan mereka dengan firmanNya, agar mereka TUNDUK dan PATUH terhadapNya, yang mana Allaah telah berfirman:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ

Katakanlah kepada wanita yang BERIMAN:

يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

1. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

2. dan JANGANLAH MEREKA MENAMPAKKAN PERHIASANNYA, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

3. Dan hendaklah mereka MENUTUPKAN KAIN KUDUNG KE DADANYA…

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

4. (Kemudian Allaah kembali menegaskan) dan JANGANLAH MENAMPAKKAN PERHIASANNYA kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

(an Nuur: 31)

Berkata Iimaam Ibnu Katsiir rahimahullaah:

“Ini merupakan PERINTAH ALLAAH kepada wanita-wanita MUKMINAH, karena kecemburuanNya terhadap suami-suami mereka , para hambaNya yang beriman, dan UNTUK MEMBEDAKAN MEREKA dengan SIFAT JAHILIYYAH dan WANITA MUSYRIKAH…”

Adapun firmanNya:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

dan JANGANLAH MEREKA MENAMPAKKAN PERHIASANNYA, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Imaam ibnu Katsiir membawakan perkataan Ibnu ‘Abbaas: “Kecuali wajah dan telapak tangan”

Adapun firmanNya:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Dan hendaklah mereka MENUTUPKAN KAIN KUDUNG KE DADANYA…

Berkata Imaam ibnu Katsiir: “Leher dan dada HINGGA TIDAK TERLIHAT SEDIKITPUN!”

Kemudian beliau membawakan atsar dari ‘Aa-isyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwa beliau berkata:

وإني – والله – وما رأيت أفضل من نساء الأنصار أشد تصديقا بكتاب الله ، ولا إيمانا بالتنزيل .

“Dan Sesungguhnya aku belum pernah melihat wanita yang lebih utama daripada wanita anshar… Yang PALING MEMBENARKAN KITAABULLAAH, dan PALING KUAT KEIMANANNYA kepada wahyu yang diturunkan…

لقد أنزلت سورة النور : ( وليضربن بخمرهن على جيوبهن ) ، انقلب إليهن رجالهن يتلون عليهن ما أنزل الله إليهم فيها ، ويتلو الرجل على امرأته وابنته وأخته ، وعلى كل ذي قرابة

Sungguh ketika turun ayat: وليضربن بخمرهن على جيوبهن “dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”, maka suami-suami mereka membacakan ayat ini pada mereka . Para suami ini membacakan ayat ini kepada istri mereka, putrinya, saudara perempuannya, dan seluruh keluarga dekatnya…

فما منهن امرأة إلا قامت إلى مرطها المرحل فاعتجرت به ، تصديقا وإيمانا بما أنزل الله من كتابه ، فأصبحن وراء رسول الله صلى الله عليه وسلم الصبح معتجرات ، كأن على رءوسهن الغربان

Segeralah setiap wanita bangkit dan mengoyak-ngoyak kain mereka lalu menutup tubuh mereka denganya sebagai PEMBENARAN TERHADAP KITAABULLAAH dan KEIMANAN MEREKA kepada wahyu yang diturunkan Allaah dalam kitabNya. Mereka pun berada dibelakang Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dengan mengenakan tudung penutup kepala seolah-olah burung gagak hinggap diatas kepala mereka..

(Diriwayatkan Imam ibnu abi haatim, namun pada sanadnya terdapat kelemahan)

Tidakkah kita (para suami) hendak mencontohi lelaki anshaar, yang bersemangat untuk mendakwahi keluarga kita agar bertaqwa kepada Allaah?!

Tidakkah engkau wahai wanita muslimah hendak MEMBUKTIKAN KLAIM “cinta kepada Allaah”!?

Dan Ingatlah pula, wahai wanita MUSLIMAH… Allaah tidak hanya menurunkan satu ayat tentang PERINTAH untuk menutup auratmu! Telah diturunkan pula ayat lain yang memerintakan engkau agar engkau menutup auratmu!

ALlaah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Ahzab: 59)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata:

“Ayat yang disebut dengan ayat hijab ini memuat perintah Allah kepada Nabi-Nya agar menyuruh kaum perempuan secara umum [yaitu bukan hanya KHUSUS kepada istri nabi saja!] dengan mendahulukan istri dan anak-anak perempuan beliau karena mereka menempati posisi yang lebih penting daripada perempuan yang lainnya, dan juga karena sudah semestinya orang yang menyuruh orang lain untuk mengerjakan suatu (kebaikan) mengawalinya dengan keluarganya sendiri sebelum menyuruh orang lain. Hal itu sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”

(Taisir Karimir Rahman, hal. 272; sumber)

Abu Malik berkata:

“Ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwa para ulama telah SEPAKAT WAJIB-nya kaum perempuan MENUTUP SELURUH TUBUHNYA, dan sesungguhnya terjadinya perbedaan pendapat –yang teranggap- hanyalah dalam hal menutup wajah dan dua telapak tangan.”

(Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382; sumber)

Menampakkan aurat merupakan SALAH SATU DOSA BESAR!

Tidak cukup sampai disini wahai saudariku! Sesungguhnya engkau, menampakkan auratmu merupakan perbuatan DOSA BESAR!

Hal ini berdasarkan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang BERPAKAIAN TAPI TELANJANG, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu TIDAK AKAN MASUK SURGA dan TIDAK AKAN MENCIUM AROMANYA, walaupun aromanya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”

(HR. Muslim no. 2128)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِيحُهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ

“Wanita-wanita yang BERPAKAIAN TETAPI TELANJANG, yang berjalan berlenggak-lenggok untuk membuat manusia memandangnya, mereka TIDAK AKAN MASUK SURGA dan TIDAK AKAN MENDAPAT AROMANYA. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun.”

(HR. Malik dalam al-Muwaththa’ riwayat Yahya Al Laits, no. 1624)

Apa makna “berpakaian tapi telanjang?!”

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,

“Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.”

(Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,

“Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.”

(Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

[Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/1613-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html]

Berbagai Alasan Enggan Berjilbab

Kemudian kita dapati sebagian WANITA MUSLIMAH… Mendatangkan pengelakan-pengelakan yang amat lemah dan TIDAK BERDASAR!

Coba perhatikan beberapa alasan mereka:

Pertama: Yang penting hatinya dulu yang dihijabi

Alasan, semacam ini sama saja dengan alasan orang yang malas shalat lantas mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Inilah alasan orang yang punya pemahaman bahwa yang lebih dipentingkan adalah amalan hati, tidak mengapa seseorang tidak memiliki amalan badan sama sekali. Inilah pemahaman aliran sesat “Murji’ah” dan sebelumnya adalah “Jahmiyah”. Ini pemahaman keliru, karena pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Din dan Islam itu adalah perkataan dan amalan, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] amalan hati, [4] amalan lisan dan [5] amalan anggota badan.”[4]

Imam Asy Syaafi’i rahimahullah menyatakan,

الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.”

Jadi tidak cukup iman itu dengan hati, namun harus dibuktikan pula dengan amalan.

Kedua: Bagaimana jika berjilbab namun masih menggunjing

Alasan seperti ini pun sering dikemukakan. Perlu diketahui, dosa menggunjing (ghibah) itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang yang rajin shalat malam, boleh jadi dia pun punya kebiasaan mencuri. Itu bisa jadi. Sebagaimana ada kyai pun yang suka menipu. Ini pun nyata terjadi.

Namun tidak semua yang berjilbab punya sifat semacam itu. Lantas kenapa ini jadi alasan untuk enggan berjilbab? Perlu juga diingat bahwa perilaku individu tidak bisa menilai jeleknya orang yang berjilbab secara umum. Bahkan banyak wanita yang berjilbab dan akhlaqnya sungguh mulia. Jadi jadi kewajiban orang yang hendak berjilbab untuk tidak menggunjing.

Ketiga: Belum siap mengenakan jilbab2

Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut beruban? Setan dan nafsu jelek biasa memberikan was-was semacam ini, supaya seseorang menunda-nunda amalan kebaikan.

Ingatlah kita belum tentu tahu jika besok shubuh kita masih diberi kehidupan. Dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa satu jam lagi, ia masih menghirup nafas. Oleh karena itu, tidak pantas seseorang menunda-nunda amalan. “Oh nanti saja, nanti saja”. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberi nasehat yang amat bagus,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .

“Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu-nunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Bukhari no. 6416). Nasehat ini amat bagus bagi kita agar tidak menunda-nunda amalan dan tidak panjang angan-angan.

Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi. Seorang da’i terkemuka mengatakan nasehat 3 M, “Mulai dari diri sendiri, mulai dari saat ini, mulai dari hal yang kecil”.

[Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/3140-menutup-aurat-hanya-musiman.html]

Peringatan setelah engkau telah mengetahui perintahNya!

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:

Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir (karena mereka telah menghalalkan apa yang Allah haramkan), kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.

Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam.

(Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

[tambahan Abu Zuhriy:

Juga hal ini sebagai PERINGATAN, terhadap para wanita yang "berkerudung" tapi masih saja menampakkan lekuk tubuh auratnya (yaitu tidak menutupnya dengan sempurna)!

Jangan kalian anggap kalian telah "menunaikan perintahNya" sedangkan kalian masih termasuk pada ancaman: "berpakaian tapi telanjang"!

Ketahuilah! Menutup aurat itu tidak sekedar "menutup" auratmu agar tidak terlihat saja! Tapi engkau tutup auratmu sampai-sampai lekuk tubuh auratmu TIDAK TERLIHAT dan TIDAK NAMPAK!

---]

Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik ….

[Dipetik: http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/1613-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html]

Catatan Kaki

  1. Yang dimaksud disini adalah mereka yang menggunakan jilbab yang TIDAK SESUAI SYARI’AT, yaitu “jilbab gaul” yang hanya bermodal kerudung, yang dengan pakaian tersebut masih saja mempertontonkan aurat mereka dengan nampaknya lekuk tubuh badan!

    Adapun syarat-syarat Jilbab Yang Syar’i maka telah dijelaskan disini: “Jilbab Wanita Muslimah

  2. Simak pula bantahannya disini: http://abuzuhriy.com/aku-belum-siap-berjilba/

Sedikit nasehat kepada pemberi hutang dan penghutang

Pertama-tama… Hendaknya keduanya menuliskannya (dan amanah dalam penulisannya dan penjagaannya), dan hendaknya pula keduanya mendatangkan saksi-saksi, yang mana saksi-saksi tersebut hendaknya saksi-saksi yang adil lagi amanah.

Berkata Imaam ibnu Katsiir dalam menafsirkan al Baqarah 282: “Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi…”

Klik untuk melanjutkan bacaan…

Allah itu Maha Penyayang diantara semua para penyayang

Pernah suatu ketika seorang pria mendatangi nabi bersama anaknya. Anak itu mendekapkan dirinya padanya.

Kemdian Rasuulullaah bertanya pada pria tersebut

أَتَرْحَمُهُ ؟

Apa kau menyayanginya?

Dia menjawab: “Ya”

Rasuulullaah bersabda

فَاللَّهُ أَرْحَمُ بِكَ مِنْكَ بِهِ ، وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Maka Allaah terhadapmu LEBIH BESAR KASIH SAYANG-Nya daripada kasih sayagmu terhadap anakmu; dan sesungguhnya Dia (Dzat) yang Maha Penyayang diantara semua penyayang..

(Shahiih; diriwayatkan al Bukhaariy dalam al adaabul mufrad)

Ingatlah… Meskipun engkau mengalami penyakit yang berkepanjangan… Tidaklah itu mengurangi kasih sayang Allaah terhadapmu…

Sungguh Nabi Ayyub berkata dalam sakitnya:

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit… dan Engkau adalah Dzat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”

(Al Anbiyaa: 83)

Dan semoga Allaah mengampuni dan merahmati ayahku… Sesungguhnya ketika beliau sakit (yang menyebabkan beliau wafat), dzikir diatas adalah salah satu dzikir yang beliau baca…

Maka janganlah beratnya kehidupan yang kita jalani, beratnya sakit yang kita derita, menjadikan kita su’uzhann kepadaNya…

Dan bagaimana kita hendak su’uzhann kepadaNya? sedangkan kita telah mendengarkan hadits berikut?!

Berkata ‘umar ibnul khaththaab radhiyallaahu ‘anhu:

قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ سَبِيٌّ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَبِيِّ تَحْلُبُ ثَدْيُهَا تَسْقَى

Datang para tawanan di hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Ternyata di antara para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu.

إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَبِيِّ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ

Setiap dia dapati anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya.

فَقَالَ النَّبِيُّ أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةٌ وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟

Maka Nabi bertanya, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”

قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحُهُ

Kami pun menjawab, “Tidak. Sementara dia kuasa untuk tidak melemparkan anaknya ke dalam api.”

فَقَالَ: لَلهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Nabi bersabda, “Sungguh Allah LEBIH PENYAYANG terhadap hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.”

(Shahiih, HR. al-Bukhari no. 5999)

Maka ketahuilah… Adanya ujian yang datang kepada kita… BUKAN BERARTI karena kurangnya rasa sayang Allaah kepada kita…

Bahkan ketahuilah… Telah berlalu sebelum kita ORANG-ORANG YANG DICINTAI-NYA mengalami ujianNya… tapi apakah ujian tersebut BERMAKNA bahwa dia tidak mencintai dan tidak menyayangi mereka?!

Sungguh telah Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam ditanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً

Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?

قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian YANG SEPERTINYA, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan TIDAK MEMPUNYAI KESALAHAN…”

(HR. Ahmad, ibn maajah, tirmidziy; berkata at Tirmidziy, hadits ini hasan shahiih)

Ingatlah! ketika SEORANG MUSLIM sakit… Maka ia ingat, bahwa JIKA IA BERSABAR 1, maka ia akan dijanjikan BANYAK KEUTAAMAAN… Maka ia pun BERSABAR, dan mengharapkan agar ia termasuk orang yang mendapatkan keutamaan tersebut…

Allaah berfirman:

إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ الله مَا لاَ يَرْجُونَ

“Apabila kalian (wahai kaum muslimiin) merasakan sakit… maka sesungguhnya mereka (orang kafir) juga merasakan sakit… sementara kalian mengharapkan dari Allaah, apa yang tidak mereka harapkan”

(QS An-Nisa’ 104)

Diantara banyak keutamaan sabar, maka ketahuilah ada dua keutamaan besar dari sabar dari musibah yang menimpa:

1. Musibah, BILA DIHADAPI dengan KESABARAN, maka AKAN MENGHAPUSKAN DOSA…

Rasuulullaah bersabda

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ يَنْزِلُ بِالْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّي يَلْقَي الله وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيْئَةٍ

Tidaklah musibah terus menimpa terhadap seorang MUKMIN laki-laki dan MUKMIN perempuan pada DIRINYA, ANAKNYA dan HARTA BENDANYA hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali.

(HR Ahmad, Tirmidziy dan selainnya; shahiih)

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang MUSLIM kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”

(HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘A`isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang MUSLIM ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”

(HR. Al-Bukhariy dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Lihatlah pada hadits-hadits diatas… Rasuulullaah MENGAITKAN keutamaan tersebut pada diri seorang MUSLIM/MUKMIN…

Mengapa HANYA pada seorang MUSLIM:MUKMIN?

Karena SIKAP orang MUSLIM/MUKMIN dalam menghadapi musibah tidak seperti sifat orang kaafir

Rasuulullaah bersabda tentang orang-orang mukmin:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila kebaikan dialaminya, maka ia BERSYUKUR, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila keburukan menimpanya, dia BERSABAR dan hal itu merupakan kebaikan baginya.”

[HR. Muslim]

Adapun orang-orang kaafir, dan KEBANYAKAN MANUSIA, maka Allaah berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا . إِلَّا الْمُصَلِّينَ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (yaitu TIDAK SABAR), dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (yaitu TIDAK MAU BERSYUKUR)… kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat (yaitu orang-orang yang BERIMAN)…

[al Ma'aarij: 19-22]

Maka jika kita ingin mendapatkan keutamaan-keutamaan ketika musibah menimpa, hendaknya kita bersikap selayaknya muslim/mukmin bersikap; yaitu dengan BERSABAR ketika musibah menimpa.

Beliau juga bersabda

إِذَا ابْتَلَى اللَّهُ الْعَبْدَ المسلم بِبَلاءٍ فِي جَسَدِهِ ، قَالَ لِلْمَلَكِ :

Apabila Allah menguji hambaNya YANG MUSLIM dengan suatu cobaan (penyakit/luka/dsb) pada tubuhnya, maka Allah berkata kepada malaikatNya:

اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ

Tulislah kepadanya amal shalih dari apa yang dilakukan (hambaKu ini)

—-Dalam riwayat Abu Nu’aym—-

(إذا اشتكى العبد المسلم قال الله تعالى للذين يكتبون

Jika seorang hamba Allah YANG MUSLIM tertimpa suatu penyakit, maka Allah akan berkata kepada malaikat yang bertugas menulis amal perbuatan:

اكتبوا له أفضل ما كان يعمل إذا كان طلقا حتى أطلقه

Tulislah kepadanya amal perbuatan yang terbaik dari apa yang (dilakukan hambaKu ini); jika ia SENANG (dalam menghadapi cobaan penyakit tersebut) hingga Aku menyembuhkan penyakitnya.

—-(HR Abu Nu’aym dalam al hilyah dengan sanad yang shahiih)—-

؛ فَإِنْ شَفَاهُ غَسَّلَهُ وَطَهَّرَهُ

Maka jika Allah menyembuhkannya, maka dia akan membersihkan serta menyucikannya (dari penyakitnya dan juga dari dosa-dosanya disebabkan kesabaran hambaNya tersebut, az)

وَإِنْ قَبَضَهُ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ

Dan jika Allah mewafatkannya, maka Allah mengampuninya dan merahmatinya

(HR Ahmad; dengan sanad yang hasan)

2. Ingatlah… Bukan hanya ampunan dan rahmat saja yang kita raih, JIKA KITA BERSABAR… Disana pula dijanjika. PAHALA YANG TANPA BATAS…

Alloh berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“HANYA KEPADA orang-orang yang BERSABAR-lah, yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas”.

(QS Az-Zumar 10)

Maka adakah dengan DUA KEUTAMAAN INI SAJA (dan sesungguhnya masih banyak keutamaan-keutamaan lain)… Kita masih berpikir bahwa dengan cobaan yang Allaah berikan kepada kita, menandakan bahwa ia tidak menyayangi kita?! Sungguh ini anggapan yang sangat buruk!2

Semoga kita termasuk orang-orang yang menyikapi musibah, selayaknya seorang MUSLIM dalam menyikapinya…

Catatan Kaki

  1. Simak: “Bersabarlah terhadap taqdir Allaah, wahai saudaraku!
  2. Justru inilah keyakinan kaum kuffaar dan munaafiqiin

    Allaah berfirman:

    فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . كَلَّا

    (yang artinya), “Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…”
    (QS. al-Fajr : 15-17)

Allah itu Maha Mengetahui, Maha Mendengar, lagi Maha Mengabulkan segala permintaan hambaNya

Ketahuilah wahai hamba-hamba Allaah! Allaah itu Maha Mengetahui, Maha Mendengar, lagi Maha Mengabulkan segala permintaan hambaNya!

- Bahkan sebelum hambaNya mengungkapkan permintaannya kepada Allaah, Allaah mengetahui segala keinginan yang ada DALAM HATI hambaNya…

- Ketahuilah… Allaah mengetahui dan mendengar permintaan hambaNya, meskipun permintaan tersbut secara berbisik-bisik

- Ketahuilah… Jika satu milyar hambaNya, memohonkan permintaan kepadaNya dalam waktu yang bersamaan… Maka ia MENGETAHUI masing-masing permintaan hamba hambaNya tersebut…

- Dalam hal pengabulan permohonan pun… Hanya ALLAAH-lah MAHA MAMPU untuk mengabulkan permohonan tersebut… Tidak ada yang tidak dimampui Allaah…

Lihatlah… Allaah Maha Mampu untuk memberikan seorang anak kepada Nabi Ibraahiim (yaitu ishaaq), padahal beliau dan istri beliau pada saat itu sudah sangat tua

Bahkan Lihatlah… Allaah Maha Mampu memberikan keturunan kepada nabi zakariya ‘alayhis salaam, padahal beliau seorang yang sudah sangat tua dan istrinya seorang yang mandul…

Lihatlah… Allaah Yang Maha Mampu mengeluarkan Nabi Yunus didalam perut ikan!! Siapa yang bisa menyangka seorang bisa selamat, padahal ia telah ditelan ikan?!

Bahkan lihatlah… Allaah Yang Maha Mampu menjadikan api yang panas itu menjadi dingin dan tidak membakar… Ketika kaumnya nabi ibraahiim membuat makar terhadapnya!!

Maka apa yang tidak disanggupi oleh Allaah?! Jika dalam perkara YANG LUAR BIASA, Allaah mampu untuk memperkenankannya… Maka pada perkara selain itu, Allaah MAHA MAMPU untuk memperkenankannya!

BERBEDA DENGAN MAKHLUQ-NYA…

- Makhluq (yaitu manusia), HANYALAH MAMPU mengetahui dan mendengar apa yang disampaikan dihadapan mereka.

- Manusia HANYA MAMPU meladeni SATU dari sekian banyak permintaan yang dimintakan kepadanya dalam waktu yang bersamaan…

- Dari satu permintaan yang ia mampu ladeni, ketahui, dan dengarkan tersebut… ia HANYA MAMPU memperkenankan permintaan yang ia sanggupi saja… Adapun permintaan yang tidak mampu ia sanggupi TIDAK AKAN MAMPU ia perkenankan… Contoh: manusia TIDAK MAMPU untuk mengangkat mudharat (banjir, badai, dll), mereka pun TIDAK MAMPU untuk memberi manfa’at (menurunkan hujan, meluaskan rezeki, memudahkan jodoh, dll)

- Manusia TIDAKLAH MAMPU untuk mengetahui dan mendengar suara berbisik yang disampaikan dari jarak 50 meter, meski orang tersebut berasa dihadapannya tanpa dihalangi tembok, tanpa alat komunikasi…

- Manusia pun TIDAK MAMPU untuk mengetahui dan mendengar suara orang lain, jika terbentang jarak antara keduanya tanpa menggunakan alat komunikasi…

- Jika SECARA LANGSUNG saja… Makhluq TIDAK MAMPU mengetahui dan mendengar dua atau lebih permintaan yang diajukan kepadanya pada waktu yang bersamaan…

Maka lebih-lebih lagi, jika ia tidak sedang berada di tempat yang bersamaan… Jangankan dua, pada satu permintaan pun ia TIDAK AKAN MUNGKIN dan TIDAK MEMILIKI KEKUATAN untuk mengetahui dan mendengar permintaan orang lain, kecuali dengan bantuan alat komunikasi…

- Nah, bagaimana lagi jika manusia tersebut TELAH WAFAT!!

Tentulah ia LEBIH LEBIH LAGI tidak mampu untuk mengetahui dan mendengar permintaan orang-orang kepadanya!

Semasa hidupnya saja… Ia hanya mampu merespon apa yang ada dihadapannya…

Semasa hidupnya saja… Ia hanya mampu meladeni pada satu permintaan (dari sekian banyak permintaan yg dimintakan kepadanya, secara bersamaan)…

Semasa hidupnya saja… TIDAK SETIAP permohonan yang dimintakan kepadanya, ia mampu memperkenankan…

MAKA bagaimana kita bisa menetapkan, SETELAH WAFATnya dia:

- Mampu untuk mengetahui dan mendengar setiap permintaan yang diajukan kepadanya (bahkan jika ada dua atau lebih permintaan secara bersamaan kepadanya)?!

- Mampu untuk memperkenankan apa yang dimintakan kepadanya, dari seluruh permintaan tersebut?! (apalagi jika sampai memintakan kepadanya sesuatu yang hanya mampu diperkenankan oleh Allaah?!)

Maka apakah kita hendak menyamakannya dengan Allaah?!

Tidakkah para penyeru wali fulaan, syaikh fulaan, dll memperhatikan hal ini?!

Maka serulah Allaah saja… Dan tinggalkan seruan-seruan kepada selainNya!

Makkah dan Madinah adalah DAARUL ISLAAM hingga hari kiamat

Sungguh perkara yang amat sangat besar… Ketika seseorang dengan lantangnya berkata: “tidak ada sejengkal tanahpun di bumi ini, melainkan ia adalah daarul kufr”

Maka… Semoga, setelah membaca petikan-petikan1 berikut… Para pembebek dari ucapan tersebut meralat kembali ucapan mereka…

Klik untuk melanjutkan bacaan…

Bulan disisi Allaah

Allaah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi….”

Apakah 12 bulan disisi Allaah itu bernama Januari, februari, maret, april, mei… dll?!

Selanjutnya, masih dalam ayat yang sama… Allaah berfirman:

مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“diantara (dari 12 bulan tersebut, ada) empat bulan haram…”

[at tawbah: 36]

Kalau yang Allaah maksud dari 12 bulan tersebut adalah januari, februari, maret, april, mei… dll; maka dimanakah dari bulan-bulan tersebut yang Allaah tetapkan sebagai bulan haram?!

Sesungguhnya Rasuulullaah bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci).

ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (aakhirah) dan Sya’ban.”

(HR. Bukhaariy, Muslim dan selainnya)

Allaah juga berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah TANDA-TANDA WAKTU bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…”

(al Baqarah: 189)

Rasuulullaah bersabda:

جعل الله الأهلة مواقيت للناس ، فصوموا لرؤيته ، وأفطروا لرؤيته ، فإن غم عليكم فعدوا ثلاثين يوما

“Allaah menjadikan bulan sabit SEBAGAI PENENTU WAKTU bagi manusia… Maka berpuasalah kalian karena kalian telah melihatnya, dan berbukalah karena melihatnya juga… Jika cuaca mendung, maka genapkanlah 30 hari”

(HR abdurrazaaq, dishahiihkan syaikh al albaaniy dalam shahiihul jaami’)

Maka jelaslah bagi kita… bahwa bulan-bulan yang dimaksudkan adlaah Bulan hijriyyah… dari Muharram sampai dzulhijjah…

Bahkan dibawakan dalam beberapa tafsiir:

“Dengan bulan sabit itu… Mereka mengetahui ‘IDDAH ISTRI mereka, serta waktu menunaikan haji…”

Maka lihatlah… Para ahli tafsiir ketika menafsirkan ayat diatas menggolongkan “iddah istri” dalam penggunaan “bulan sabit” yang Allaah firmankan diatas…

Maka pemakaian bulan-bulan Allaah ini, BUKANLAH SEBATAS SEKUNDER semata… Yang mana kita hanya menggunakan hanya pada perkara ibadah saja… Tapi juga pada perkara MUAMALAH (kehidupan kita sehari-hari)…

Sungguh kebanyakan kita lebih tenang dan lebih mengutamakan untuk mengikuti bulan-bulan yang ditetapkan NASHARA… yang MENGGANTI bulan-bulan Allaah… Yang menamakan bulan-bulan dengan selain apa-apa yang dinamakan Allaah… Yang menetapkan bulan-bulan selain dari apa-apa yang ditetapkan Allaah… Yang ditetapkan mereka untuk kegiatan sehari-hari mereka…

Tidak dapat tidak… Seseorang hanya memiliki DUA KEMUNGKINAN:

- Bulan Allaah, yang ia jadikan sebagai PRIMER… dan bulan lain sebagai SEKUNDER…

- ataukah bulan orang-orang kaafir, yang ia jadikan sebagai PRIMER, dan bulan Allaah ia jadikan sebagai SEKUNDER…

Tidak dapat tidak… Jika ia ditanyakan “tanggal berapa ini?”, maka jawabannya HARUS SALAH SATU daripada dua jawaban berikut:

- Apakah itu “29 jumadil aakhirah 1434″
- Ataukah “10 mei 2013″

Tidak dapat tidak… Salah satunya HARUS IA DAHULUKAN, dan HARUS IA SEBUT LEBIH DULU daripada yang lain…

Maka manakah yang engkau jadikan sebagai PRIMER-mu… wahai MUSLIM… bulan-bulan , tanggal-tanggal, dan tahun-tahun yang ditetapkan ORANG-ORANG KAAFIR? Ataukah bulan-bulan yang telah Allaah tetapkan sejak dahulu?!

Berkata Syaikh Shaalih al Fawzaan:

Sesungguhnya para shahabat tidak menggunakannya (yaitu kalender/penanggalan masehi), padahal kalender masehi telah ada pada zaman tersebut.

Bahkan mereka berpaling darinya dan menggunakan kalender hijriyyah. Ini sebagai bukti bahwa kaum muslimin hendaknya melepaskan diri dari adat kebiasaan orang-orang kafir dan tidak MEMBEBEK kepada mereka.

Terlebih lagi kalender masehi merupakan SIMBOL AGAMA MEREKA… sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashara (dalam agama mereka).

Maka kita tidak ikut andil dengan mereka dan tidak menganjurkan hal tersebut sama sekali. Apabila kita menggunakan kalender mereka, berarti kita menyerupai mereka (baca TASYABBUH1)

Padahal kita -dan segala pujian bagi Allah semata- telah memiliki kalender hijriyyah yang telah ditetapkan oleh Amîrul Mu`minîn ‘Umar bin Al-Khaththâb bagi kita di hadapan para sahabat Muhajirin dan Anshar ketika itu. Maka ini sudah cukup bagi kita.

(Al-Muntaqâ min Fatâwa Al-Fauzân XVII / 5, fatwa no. 153; sumber penukilan: http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/11/hukum-menggunakan-kalender-masehi/)2

Maka semoga kita termasuk orang-orang yang mendahulukanNya, syari’atNya, dan segala penetapanNya… Bukan termasuk orang-orang yang mengikuti orang-orang yang dimurkaiNya… bahkan mendahulukan penetapan orang-orang yang dimurkaiNya daripada apa yang ia tetapkan!

Allaah berfirman:

ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

Itulah (KETETAPAN) AGAMA yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan (haram) yang empat itu…

Dijelaskan: “pada bulan-bulan (haram) tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36; kutip dari rumaysho.com)

Juga dijelaskan: ”Allah mengkhususkan empat bulan (haram) tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arf, 207; kutip dari rumaysho.com)

Ingatlah… Besok (in Syaa-A LLaah) kita akan memasuki BULAN KETUJUH, dari bulan-bulan Allaah, yaitu bulan Rajab… Maka hendaknya kita mengagungkan bulan yang telah Allaah agungkan…

Semoga bermanfaat

Catatan Kaki

  1. Baca: http://abuzuhriy.com/waspadailah-perbuatan-tasyabbuh/
  2. Simak lebih lengkapnya fatwa-fatwa ulama lain dalam hal ini pada artikel berikut:

    Menjadikan kalender masehi sebagai RUJUKAN UTAMA?!

Ilmu yang bermanfaat akan meluruskan niat

Yahya bin Yaman berkata:

“Aku pernah mendengar Sufyaan sejak empat puluh tahun yang lalu, ia berkata:

‘Hari ini tak ada yang lebih utama daripada pencarian hadits’.

Mereka berkomentar kepada Sofyan;

“Paling-paling mereka mencarinya tanpa niat”.

Kontan Sofyan berkata: “Pencarian mereka untuk berburu hadis itu sendiri merupakan niat’… “.

(ad-Darimiy)

dari Mujahid, ia berkata:

“Dahulu kami mencari ilmu ini dengan tanpa niat yang benar. Kemudian Allah memberi niat (kepada kami) di kemudian hari”.

(ad-Darimiy)

dari al Hasan al bashriy, ia berkata:

“Sungguh ada beberapa kaum yang mencari ilmu sedang mereka menghendaki hal itu bukan karena Allah dan bukan untuk memperoleh yang ada di sisiNya, maka tak henti-hentinya mereka mencari ilmu hingga akhirnya mereka menghendakinya karena Allah dan untuk memperoleh apa yang ada di sisiNya”.

(ad-Darimiy)

Berkata Ibnul Munir:

“ilmu itu pelurus niat… yang kemudian niat tersebut nantinya yang akan memperbaiki amalan.”

(Fathul Bari, 1/108)

Berarti, amalan yang rusak (tidak berimbang dengan ilmu yang dimiliki) disebabkan niat yang salah. Dan hendaknya niat yang salah ini kita perbaiki dengan senantiasa menuntut ilmu. Sehingga semoga ilmu yang kita pelajari tersebut dapat meresap kedalam dada, sehingga memperbaiki niat yang tadinya salah tersebut, yang kemudian memperbaiki amalan kita..

Semoga bermanfaat

Perkataan akan diingat sesuai kadar keikhlashan

Berkata salah seorang salafush shaalih:

إِنَّمَا يُحْفَظُ حَدِيثُ الرَّجُلِ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ

“Perkataan seseorang akan diingat sesuai dengan kadar niatnya (keikhlashannya)”.

(ad-Darimiy)

Berkata sebagian ulama salaf :

لا تنفع الموعظة إلا إذا خرجت من القلب فإنها تصل إلى القلب فأما إذا خرجت من اللسان فإنها تدخل من الأذن ثم تخرج من الأخرى

“Nasihat tidak bermanfaat kecuali jika keluar dari dalam hati, kerana nasihat tersebut akan sampai pula ke hati. Tapi jika nasihat tersebut sekedar keluar dari lisan, maka hanya akan masuk ke dalam telinga kemudian keluar melalui telinga yang lain.”

(Latha-if Al-Ma’arif).

Maka barangsiapa yang ingin nasihatnya bermanfaat maka hendaklah ia mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah, bukan karena tujuan yang lain.

Hamdun bin Ahmad pernah ditanya :

Mengapa ucapan ulama salaf lebih berkesan dibanding ucapan kita?

Maka dia menjawab :

لأنهم تكلموالعز الإسلام ونجاةالنفوس ورضا الرحمن ، ونحن نتكلم لعزالنفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق

“Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa manusia dan keridhaan Ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan keridhaan manusia.”

(Shifatush Shafwah)

Semoga bermanfaat

Wafat setelah membaca keutamaan kalimat tauhid

Berkata Abu Ja’far at Tustariy rahimahullaah:

“…Kami hadir di sisi Abu Zur’ah ar-Raaziy di Masyahran ketika beliau akan meninggal. Di sisinya ada Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Mundzir bin Syadzan, dan sekelompok ulama lainnya.

Mereka pun (ingin) menyebutkan hadits tentang masalah talqin, yaitu sabda Rasulullah:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya La ilaaha Illallah maka dia masuk jannah (surga).”

(HR. Abu Dawud no. 3116)

Mereka pun merasa malu dan segan kepada Abu Zur’ah untuk menuntunnya. Lalu mereka berkata, “Mari kita sebutkan saja haditsnya.”

Lalu Muhammad bin Muslim berkata, “Adh-Dhahhak bin Makhlad memberitakan kepada kami, dari Abul Hamid bin Ja’far, dari Shalih….” lalu beliau berhenti dan tidak dapat melanjutkan.

Berikutnya, Abu Hatim mengatakan, “Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih…” lalu beliau pun tidak dapat melanjutkan.

Adapun yang lain diam.

Maka kemudian Abu Zur’ah yang dalam keadaan hendak meninggal berkata,

“Bundar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Hamid bin Ja’far memberitakan kepada kami, dari Shalih bin Abu Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata: bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir ucapannya La ilaaha Illallah maka dia masuk jannah (surga).”

(HR. Abu Dawud no. 3116)…”

Lalu beliau meninggal (setelah membacakan hadits diatas)…

Abu Hatim berkata,

“Seketika rumah pun bergemuruh oleh tangisan orang-orang yang hadir.”

(Taqdimah al-Jarh wat Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 345; kutip dari web asysyariah)

Pelajaran

Sesungguhnya Abu Zur’ah dimasa hidupnya disibukkan dengan membela agama Allah dengan mendalami dan mengajarkan ilmu hadits. Maka Allah mewafatkan beliau sebagaimana dengan apa yang ia amalkan semasa hidupnya…

Teringat akan hadits tentang perkataan malaa-ikat di alam kubur pada seorang mukmin:

وَيُقَالُ عَلَى الْيَقِينِ كُنْتَ وَعَلَيْهِ مِتَّ وَعَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

dan dikatakan (malaa-ikat pada orang mukmin) : ‘Dahulu kamu HIDUP diatas KEYAKINAN ISLAM dan mati di atasnya (KEYAKINAN ISLAM), dan di atasnya pula insya Allah kamu akan dibangkitkan.’

(HR. Ahmad, dishahiihkan oleh Syaikh Muqbil dalam ash-shahiihul musnad)

Semoga kita termasuk orang-orang yang hidup diatas keyakinan islaam, mati diatasnya dan dibangkitkan diatasnya pula.. aamiin… Semoga bermanfaat

Menjadi pendengar yang baik

Pernah ada seorang salafush shalih dibacakan padanya sebuah hadits. Ia terus mendengarkan hingga selesai pembacaannya. Setelah orang yang membaca tsb pergi, ia berkata:

“sesungguhnya aku telah mendengar hadits tersebut sebelum orang -yg membaca itu- dilahirkan”

Kalaupun ternyata kisah tersebut dha’if sanadnya, tapi yang dimaksudkan darinya adalah memetik pelajaran berharga; yaitu:

1. Akhlaq terhadap sesama

Sebagaimana kita ingin omongan kita didengar, maka jadilah pendengar yang baik ketika orang lain berbicara

2. Menghargai ilmu

Ketika kita disebutkan akan sesuatu yang sudah kita ketahui; maka bukan berarti mengharuskan kita berpaling, atau tidak lagi mendengar apa yang disampaikan tersebut.

- Kita bisa kembali ingat akan pelajaran tersebut,

- Atau kita bisa menguatkan hafalan kita dengan disebutkan kembali hal tersebut.

- Atau bahkan mungkin kita mndapat faidah lain yang belum kita ketahui dari penjelasan tersebut.

Maka tidak ada salahnya, bahkan merupakan keluhuran akhlaq, ketika kita diam, mendengarkan dan bahkan memperhatikan suatu pelajaran, meski kita telah pernah disampaikan hal tersebut.

Dan hal ini bukan pada perkara agama atau ilmu agama saja… Bisa pula kita terapkan ketika orang tua kita, istri kita, anak kita atau teman/rekan kita mmbicarakan sesuatu yg mungkin sudah kita ketahui… Guna menyenangkan hati mereka…

Tidak perlu kita berkata dan memutus obrolannya: “aah basii” atau ucapan selainnya. Maka mari kita belajar menjadi PENDENGAR yang baik…

Semoga bermanfaat