As-Sunnah Dan Para Penentangnya Di Masa Lalu dan Masa Sekarang

A. AS-SUNNAH & PARA PENENTANGNYA DI MASA LALU

Dalil-dalil yang telah dikemukakan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’ sangatlah jelas bahwa tidak boleh bagi siapa pun menolak Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan hanya berpegang kepada Al-Qur’an saja. Merupakan suatu hal yang mustahil bagi orang yang berkata bahwa ia kembali kepada Al-Qur’an & As-Sunnah tetapi ia sendiri menolak dalil-dalil As-Sunnah dengan alasan tidak sesuai dengan akal. Adapun sebagian mereka yang menolak As-Sunnah karena memang belum jelas baginya kedudukan As-Sunnah dalam syari’at, atau karena kebodohannya,maka kepada orang seperti ini harus diberikan pemahaman melalui proses wajib belajar. Sedangkan bagi mereka yang menolaknya dengan sengaja dan terang2an mengingkari hujjah-hujjah As-Sunnah padahal ia mengetahui wajibnya berpegang kepada As-Sunnah, maka orang ini adalah kafir, setelah terpenuhi syaratnya & tidak ada penghalang yang membuat ia menjadi kafir. (Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari’at Islam, hlm 62, Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas)


Pandangan Khawarij

Kaum Khawarij dengan berbagai sektenya menganggap bahwa sebelum peristiwa fitnah (73 H) seluruh Sahabat adalah adil. Tetapi setelah itu mereka mengingkari ‘Ali, ‘Utsman, dan Sahabat yang tergolong Ash-habul Jamal, kedua hakim Arbitrasi (yang ditunjuk oleh masing-masing golongan) serta mereka yang menerima keputusannya dan membenarkannya ataupun yang mengakui keputusan salah satu dari kedua hakim tersebut. Dengan demikian mereka menolak hal-hal yang diriwayatkan jumhur setelah peristiwa fitnah. Karena itu Khawarij tdk menganggap para Sahabat sebagai rawi tsiqah lagi. Namun demikian, tdk semua Khawarij menolak As-Sunnah yang diriwayatkan sesudah tahkim maupun sebelumnya. (Diraasat fil Hadits an-Nabawy, I/22-23).

Pandangan Mu’tazilah

Menurut Dr. Musthafa al-A’zhumi, Mu’tazilah mengambil hadit-hadits2 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi mereka menolak hadits-hadits yang bertentangan dengan kaidah berpikir mereka. (Dirasaat fil Hadits an-Nabawy, I/23-25). Mereka adalah orang-orang yang lebih mengedepankan akal daripada dalil, dengan berbagai alasan yang mereka buat-buat sendiri untuk menolak hadits-hadits yang shahih.

Pandangan Syi’ah

Syi’ah mempunyai berbagai sekte, Syi’ah dulunya masih dianggap sebagai salah satu madzhab dalam Islam, saat madzhab ini masih berpegang dengan ajaran para ulama. Perlu diketahui bahwa dahulu para ulama membedakan antara Rafidhah & Syi’ah. Rafidhah riwayatnya tidak boleh diterima sama sekali dan tidak boleh meriwayatkan dari mereka. Adapun Syi’ah masih boleh kita menerima hadits darinya dengan syarat dia tidak mendakwahkan bid’ahnya. Sedang Syi’ah yang sekarang berkembang (Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah) adalah satu sekte yang sama dengan Rafidhah. Ajaran tauhid mereka diambil dari Qadariyah, Jabariyah, Murji’ah, Mu’tazilah & Asy’ariyah. Ajaran mereka sangat bertentangan dengan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dg perbedaan yang sangat menonjol, yaitu tentang Al-Qur’an, ‘Aqidah, Sunnah, Malaikat, Imamah, Taqiyyah, Mut’ah, Sahabat & Ahlul Bait. (Lihat Minhajus Sunnah an-Nabawiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim).

Sebelum kita masuk kpd masalah As-Sunnah, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pandangan Syi’ah tentang Al-Qur’an. Di mana para ulama Syi’ah mengatakan: “Telah terjadi pemalsuan terhadap Al-Qur’an yg dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara ulama Syi’ah yg berpendapat demikian:
1. A-Kulani dalam kitab Ushulul Kafi.
2. Al-Qummi dalam tafsirnya.
3. Abu al-Kasim al-Kufi dalam kitabnya al-Istighatsah.
4. Al-Mufid dalam kitabnya Awa-il Maqalat.
5. Al-Ardabily dalam kitabnya Haqiqatusy Syi’ah.
6. Ath-Thabrasy dalam kitabnya al-Ihtijaj.
7. Al-Kasyi dalam tafsirnya ash-Shafiy.

8. Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah.
9. Al-Khurasani dalam kitabnya Bayan as-Sa’adah fi Maqamah al-Ibadah.
10. An-Nuri Ath-Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithaab fi Itsbat Tahriifil Kitab Rabbil Arbaab.

Menurut ulama Syi’ah, Al-Qur’an sekarang ini ada beberapa macam nuskhah (Al-Qur’an versi Syi’ah), yaitu:
1. 114 surat, tetapi ada 269 ayat yg menyimpang.
2. 112 surat (114 surat dikurangi Mu’awidzatain).
3. 115 surat (114 ditambah surat Al-Wilayah).
4. 117 surat (114 ditambah surat al-Qunut, al-Hiqd & al-Khulu’)

5. Wahyu zhahir & batin.
6. Mush-haf Fathimah, berisikan lebih dari 17 ribu ayat.
7. Mush-haf Syi’ah, yg tebalnya 3x lipat Al-Qur’an kaum muslimin.
8. Mush-haf yg dibawa oleh Imam Mahdi al-Muntazhar, dalam persembunyiannya hampir 12 abad.

Maka jika dilihat dari segi keyakinan mereka terhadap Al-Qur’an saja, dapat disimpulkan bahwa kaum Syi’ah sudah keluar dari Islam.

Tentang masalah As-Sunnah, kaum Syi’ah menolak semua hadits yg ada pd kaum Sunni, yg dianggap tdk melalui jalur ahlul bait (ahlul bait menurut pendapat mereka), karena itu maka 96% hadits2 Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mereka TOLAK & 4% saja yg mereka terima.

Kitab2 hadits yg diakui para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yg telah menjadi pegangan & rujukan kaum muslimin seperti Shahih Bukhari & Shahih Muslim, mereka tolak. Penyimpangan lain yg bisa kita lihat dari pengertian hadits menurut mereka adalah:
1. Mereka tidak mementingkan SANAD sama sekali.
2. Semua yg diriwayatkan dari imam2 ma’shum mereka (Imam 12), kedudukannya sama dg Al-Qur’an.
3. Kaum muslimin jelas sangat jauh berbeda dg Syi’ah dalam hal:
a. Ilmu Musthalah Hadits.
b. lmu Dirayah Hadits.

c. Ilmu Rijalil Hadits.

Berkata Imam Malik tentang Rafidhah, “Janganlah bicara dg mereka & jangan meriwayatkan sesuatu pun dari mereka. Mereka adalah PENDUSTA.”
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Mereka adalah manusia paling pendusta dalam masalah naqliyah (wahyu).”

B. AS-SUNNAH & PARA PENENTANGNYA DI MASA SEKARANG

Secara historis, sesudah abad kedua Hijriyah tidak pernah timbul lagi dalam sejarah individu atau jama’ah yg mengaku dirinya Islam tetapi mereka membuang As-Sunnah. Sesudah berlalu 12 abad, zaman berubah dan Daulah Islam telah lenyap, maka mulai muncul masa imperialisme, dan para penjajah mulai menyebarkan fitah mereka yg jelek & kotor untuk menghancurkan prinsip2 Islam. Dalam situasi & kondisi seperti ini muncullah penentang2 As-Sunnah di Iraq, Mesir, dan beberapa negara jajahan lainnya.

Adapun di Mesir, timbul fitnah pada masa Muhammad ‘Abduh sebagaimana disebutkan oleh Abu Rayyah dalam kitabnya, yg kemudian setelah itu diikuti oleh Dr. Taufik Sidqi dengan artikelnya yg berjudul Al-Islam huwal Qur’anu Wahdah dalam al-Manar no. 7 & 12, tahun VII di Mesir. Kemudian Ahmad Amin menulis dalam kitabnya Fajrul Islam tahun 1929 H, yg di dalamnya mencampur-adukkan antara yg haq dg yg bathil, dan ia tetap berpendirian demikian hingga datang ajalnya.

Begitu pula halnya Ismail Ad-ham, ia menulis risalah tahun 1353 H tentang sejarah As-Sunnah, yg katanya, “Hadits2 yg terdapat dalam Shahih Bukhari & Shahih Muslim tidak kuat dasarnya (tidak kuat sanadnya, bahkan diragukan dan umumnya adalah maudhu’ (palsu)!”

Jadi, ada orang yg menolak As-Sunnah secara keseluruhan dan ada pula yg menolaknya sebagian saja, yakni mereka yg menolak hadits ahad sebagai hujjah dalam masalah ‘aqidah. Dalil2 yg mereka pakai hampir sama dg dalil2 yg dipakai oleh orang2 yg menolak As-Sunnah pada abad ke-2 Hijriyah.

LARANGAN HANYA BERPEGANG PADA AL-QUR’AN SAJA

Dari Miqdam bin Ma’di Kariba radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, tlh bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ketahuilah, ssghnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yg seperti Al-Qur’an bersamanya (As-Sunnah). Ketahuilah, nanti AKAN ADA org yg kenyang di atas kursinya sambil berkata, ‘Cukuplah bagimu utk berpegang dg Al-Qur’an (saja), apa2 yg kalian dapati hukum halal di dlmnya maka halalkanlah dan apa2 yg kalian dapati hukum haram di dlmnya, maka haramkanlah’. (Ketahuilah) Ssghnya apa2 yg diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam SAMA seperti yg diharamkan Allah..” (Hadits shahih riwayat Abu Daud no. 4606 dan lafazh ini miliknya, Ahmad IV/131, Ibnu Hibban no. 12, Ath-Thabrani dlm Mu’jamul Kabir XX/no. 669-670, Ath-Thahawy dlm Syarah Ma’anil Atsaar IV/209, dan Al-Baihaqy IX/332)

Leave a Reply


nine + = 15