Hadits-hadits dhåif yang tersebar di bulan Råmadhån

Kami (Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Hafizhåhumullåh) menilai perlunya dibawakan pasal ini pada kitab kami (yakni Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan), karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai penegasan terhadap kebenaran, maka kami katakan :

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari sunnah, dan mematahkan ta’wilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap kepalsuan para pemalsu sunnah.

Sejak bertahun-tahun sunnah telah tercampur dengan hadits-hadits yang dhaif, dusta, diada-adakan atau lainnya. Hal ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan dan keterangan yang sempurna.

Orang yang melihat dunia para penulis dan para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka -kecuali yang diberi rahmat oleh Allah- tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walau sedikit perhatianpun walaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan shahih dan menyingkap yang bathil.

Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini, serta pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia, tapi akan kita cukupkan sebagian contoh yang baru masuk dan masyhur dikalangan manusia dengan sangat masyhurnya, hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat kecuali hadits-hadits ini -sangat disesalkan- menduduki kedudukan tinggi. (Ini semua) sebagai pengamalan hadits :

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat …” [Riwayat Bukhari 6/361], dan sabda beliau : “Agama itu nasehat” [Riwayat Muslim no. 55]

Maka kami katakan wabillahi taufik :

Sesungguhnya hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali, hingga mereka hampir tidak pernah menyebutkan hadits shahih -walau banyak-yang bisa menghentikan mereka dari menyebut hadits dhaif.

Semoga Allah merahmati Al-Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan : “(Menyebutkan) hadits shahih itu menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya”.

Jadikanlah Imam ini sebagai suri tauladan kita, jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup kita).

Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan (sebagai dalil) di kalangan manusia di bulan Ramadhan, diantaranya.

Pertama

“Artinya : Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya ….” Hingga akhir hadits ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh:

- Ibnu Khuzaimah (no.886)
- Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Maudhuat (2/188-189)
- Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul ‘Aaliyah (Bab/A-B/tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah dari Abu Mas’ud al-Ghifari.

Derajat Hadits

Hadits ini maudhu’ (palsu), penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata : “Mashur dengan kelemahannya”. Juga dinukilkan perkataan Abu Nua’im, ” Dia suka memalsukan hadits”, dan dari Bukhari, berkata, “Mungkarul hadits” dan dari An-Nasa’i, “Matruk” (ditinggalkan) haditsnya”.

Komentar ulama terhadap hadits diatas

Ibnul Jauzi menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, dan Ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya, “Jika haditsnya shahih, karena dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al-Bajali”.

Kedua

“Artinya :Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain …. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka ….” sampai selesai.

Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur.

Hadits ini diriwayatkan oleh:

- Ibnu Khuzaimah (1887)
- Al-Muhamili di dalam Amalinya (293)
- Al-Asbahani dalam At-Targhib (q/178, b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman.

Derajat Hadits:

Hadits ini sanadnya Dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid.

Komentar ulama terhadap hadits diatas:

- Berkata Ibnu Sa’ad, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangang berhujjah dengannya”,
- Berkata Imam Ahmad bin Hanbal, “Tidak kuat”,
- Berkata Ibnu Ma’in. Dha’if
- Berkata Ibnu Abi Khaitsamah, “Lemah di segala penjuru”,
- Berkata Ibnu Khuzaimah, “Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya.”

[Demikian di dalam Tahdzibut Tahdzib [7/322-323]]

- Berkata Ibnu Hajar di dalam Al-Athraf, Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad’an, dan dia lemah, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam Jami’ul Jawami (no. 23714 -tertib urutannya).
- Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di dalam Illalul Hadits (I/249), “hadits yang Mungkar”

Ketiga

“Artinya : Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”

Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dari Ad-Dhahak dari Ibu Abbas. Nashsyal (termasuk) yang ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

Hadits diatas diriwayatkan oleh:

- At-Thabrani di dalam Al-Ausath (1/q 69/Al-Majma’ul Bahrain)
- Abu Nu’aim di dalam At-Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, dari Zuhair bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abu Hurairah.

Derajat hadits:

Dan sanad hadits ini dhåif.

Komentar ulama terhadap hadits diatas:

- Berkata Abu Bakar Al-Atsram, “Aku mendengar Imam Ahmad -dan beliau menyebutkan riwayat orang-orang Syam dari Zuhair bin Muhammad- berkata, “Mereka meriwayatkan darinya (Zuhair,-pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam, -pent) yang dhoif itu”.

- Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia”. Al-Ajalaiy berkata. “Hadits ini tidak membuatku kagum”, demikianlah yang terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/417).

- Aku (Tidak jelas apakah yang mengatakan ini apakah Syaikh Salim Ied Al-Hilaly atau Syaikh Ali Hasan Al-Halaby) katakan : Dan Muhammad bin Sulaiman Syaami, biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q 386-tulisan tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaimana di naskhan oleh para Imam adalah mungkar, dan hadits ini darinya.

Keempat

“Artinya : Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh”

Hadits diriwayatkan oleh:

- Bukhari dengan mu’allaq dalam shahih-nya (4/160-Fathul Bari) tanpa sanad.
- Ibnu Khuzaimah telah memalukan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870),
- At-Tirmidzi (723),
- Abu Dawud (2397),
- Ibnu Majah (1672)
- Nasa’i di dalam Al-Kubra sebagaimana pada Tuhfatul Asyraaf (10/373),
- Baihaqi (4/228)
- dan Ibnu Hajjar dalam Taghliqut Ta’liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah.

Derajat hadits

Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya :Jika khabarnya shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga hadits ini dhaif juga.

Komentar ulama terhadap hadits diatas:

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (4/161) : “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah”.

Wa ba’du : Inilah empat hadits yang didhaifkan oleh para ulama dan di lemahkan oleh para Imam, namun walaupun demikian kita (sering) mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya.

[sampai disini kutipan dari Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Hafizhåhumullåh]

[berikut kutipan dari berbagai sumber, lihat maraji']

Kelima

“(yang artinya) Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh”

Hadits diriwayatkan oleh:

-Bukhari dengan mu’alaq dalam shahih-nya tanpa sanad [Fathul Bari, jld. 4 hlm. 160]
- Ibnu Khuzaimah, no.19870
-At-Tirmidzi, no. 723
-Abu Dawud, no. 2397
-Ibn Majah, no. 1672
-Nasa’i di dalam Al-Kubra [Tuhfatul Asyraaf, jld.10 hlm.373]
-Baihaqi (4/228)
-Ibnu Hajar dari jalan Abil Muthawwas dari bapanya dari Abu Hurairah.[Taghliqut Ta'liq, jld.3 hlm.170]

Derajat hadits: Hadits ini dhaif.

Kecacatan Perawi1:

- Hubaib bin Abi Tsabit
- Abil Muthawwas dan bapaknya.

Komentar terhadap perawi-perawi tersebut:

- “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah”.[Ibn Hajar, Fathul Bari jld.4 hlm.161]

- “Jika khabarnya shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga hadits ini dhaif juga.”[Ibnu Khuzaimah]

Keenam

“(Yang artinya) Tidur orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni”.

Hadith diriwayatkan oleh:

- al-imam al-Baihaqi [Syu’ab al-Imam]
- al-Suyuti [al-Jami’ al-Shaghir 1404/1981, 2/678]

Derajat hadits: Hadith dhaif [al-Imam al-Suyuti]

Para ulama’ tahqiq yang lain yang lebih cenderung mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits maudhu’.

Kecacatan Perawi:

- Ma’ruf bin Hisan
- Sulaiman bin Amr al-Nakha’i

Komentar terhadap perawi-perawi tersebut:

-”Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah pemalsu hadis” [Imam Ahmad Bin Hanbal]
-“Sulaiman bin Amr al-Nakha’i dikenali sebagai pemalsu hadis” [Yahya Ibn Ma'in]
-“Sulaiman bin Amr adalah manusia yang paling dusta di dunia ini”. [Yahya Ibn Ma'in]
-“Siapa pun tidak halal meriwayatkan hadis dari Sulaiman bin Amr”.[Yazid Bin Harun]
-“Sulaiman bin Amr adalah matruk (tertolak)”.[Imam Bukhari]
- “Para ulama’ sepakat bahawa Sulaiman bin Amr adalah seorang pemalsu hadis”.[Ibn Adi]
- “Sulaiman bin Amr al-Nakha’i adalah orang Bagdhad, yang secara lahiriahnya, dia adalah seorang yang salih, tetapi ia memalsukan hadis”.[Ibn Hibban]
- “Sulaiman bin Amr adalah pemalsu hadis” [Imam al-Hakim]

Ketujuh

(Do’a berbuka puasa yang populer di Indonesia)

Ada tiga hadits:

1. “Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi shållallåhu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

“Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).

Hadits diatas diriwayatkan oleh:

- Daruqutni di kitab Sunannya,
- Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir

Derajat hadits: sangat Lemah/Dloif

Kecacatan Råwi:

- Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.

- Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya.

- Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.

Komentar ulama terhadap hadits dan perawi-perawinya:

1. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if
2. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)
3. Kata Imam Ibnu Hibban : pemalsu hadits
4. Kata Imam Dzahabi : di dituduh pemalsu hadits
5. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)
6. Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani, dll.
Periksalah kitab-kitab berikut :

1. Mizanul I’tidal 2/666
2. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami
3. Zaadul Ma’ad di kitab Shiam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim
4. Irwaul Gholil 4/36-39 oleh Muhaddist Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

2. “Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi shållallåhu ‘alaihi wa sallam : Apabila berbuka beliau mengucapkan :

“Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).

Hadits diatas diriwayatkan oleh:

- Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath)

Derajat hadits: Lemah/Dlo’if

Kecatatan rawi dan komentar ulama:

A. Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah, (adapun komentar ulama):

- Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
- Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
- Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
- Sepengetahuan saya (Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

B. Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan, (adapun komentar ulama):

- Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
- Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
- Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)

3. ” (yang aritinya) Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shållallåhu ‘alaihi wa sallam. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ‘Alaa Rizqika Aftartu.”

(Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

Hadits diatas diriwayatkan oleh:

- Abu Dawud No. 2358
- Baihaqi 4/239
- Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni)

Derajat hadits: MURSAL2

Kecacatan Råwi

- “Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shållallåhu ‘alaihi wa sallam

- “Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.

Adapun do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah

(artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)”

(HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

Kedelapan

“(Artinya) Ya Allah anugerahkan kepada kami keberkahan di (bulan) Rajab dan Sya`ban serta pertemukan kami (dengan) Ramadhan (Hadits Dha’if)

(Dhåif, Lihat, alAdzkaar, oleh anNawawiy; Mizaan alI’tidal, oleh adzDzahabiy; Majma’u azZawaaid, oleh alHaitsamiy, 2/165 dan Dha’if alJami`, oleh alAlbaniy, hadits no. 4395)

Kesembilan

“(Yang artinya) Sekiranya semua hamba mengetahui apa yang terkandung dalam (bulan) Ramadhan sungguh ummat-ku akan berharap (bulan) Ramadhan menjadi setahun penuh” (Hadits Dha’if)

(Dhåif, Lihat, alMaudhuat, oleh Ibnu alJauziy, 2/188; Tanjiih asySyari’ah, oleh alKanaaniy, 2/153; alFawaaid alMajmu’ah, oleh asySyaukaniy, 1/254)

Kesepuluh

“(Yang artinya) Setiap sesuatu (memiliki) pintu, dan pintu ibadah adalah puasa”

Hadist ini dinukil oleh Abi Syuja’ di dalam alFirdaus, no. 4992 dari hadits Abu Darda’ dan menurut Syaikh alAlbaniy hadits ini dhåif di dalam kitabnya adhDha’if, no. 4720)

Kesebelas

“(Yang artinya) Tidurnya seorang yang berpuasa adalah ibadah”

Hadits ini di-dhåifkan oleh al’Iraaqiy di dalam alMughniy, no. 727; dan asSuyuthiy di dalam alJami’ ashShaghir, hal. 188; dan telah membenarkan alMunawiy di dalam alFaidh, no. 9293 dan Syaikh alAlbaniy sepakat dengan keduanya di dalam adhDha`if, no. 5972)

Keduabelas

“(Yang artinya) Puasa adalah separuh dari kesabaran”

Dhåif, Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidziy di dalam as-Sunan, no. 3519; dan adDaarimiy, no. 659; Imam Ahmad, di dalam Musnad, 4/260; dan alMarwaziy di dalam Ta’zhimi Qadri ashShalah, no. 432 dari hadits seorang laki-laki dari Bani Sulaim.

[sampai disini kutipan dari berbagai sumber]

Kesimpulan

Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits (diatas) ini memiliki makna-makna yang benar, yang sesuai dengan syari’at kita yang lurus baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah, akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih lagi -segala puji hanya bagi Allah- umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Dengan sanad dapat diketahui mana hadits yang dapat diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang jelek. Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang menamainya : “Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran khabar”.

Maraji’

- Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata’

- Mohd Hairi Nonchi, Hadis-Hadis Lemah & Palsu Berkaitan Dengan Bulan Ramadhan.

– Drs Abdul Ghani Azmi. Himpunan Hadis Dhaif dan Maudhu’ (Jld. 1)

- Al-Ustadz Arif Syarifuddin, Lc. Hadits-Hadits Dha’if Seputar Ramadhan.

- Al-Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat, Derajad Hadits Tentang Bacaan Waktu Berbuka Puasa, dan Kelemahan Beberapa Hadits Tentang Keutamaan/Fadillah Puasa

- http://ibnyusof.blogspot.com/2008/09/hadithhadishadits-lemah-dhaif-dan-palsu.html

- http://kustoro.wordpress.com/2007/08/29/hadits-dhaif-seputar-ramadhan/

Catatan Kaki

  1. Periwayat, atau penyampai atau pencatat atau pembawa hadits
  2. Mursal maksudnya, dalam riwayat tersebut, seorang tabi’in (orang yang hidup pada generasi setelah shåhabat) meriwayatkan langsung dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, (baik itu ucapan atau perbuatan) beliau tanpa melalui perantara shahabat

3 Responses to “Hadits-hadits dhåif yang tersebar di bulan Råmadhån”

  1. Hati2 dalam mengingkari hadits dha’if
    Termasuk al kadzibin adalah mereka yg menganggap perkataan dr rasul sbg kedustaan

  2. @artikel islami

    POINT PERTAMA

    – Tentang hadits dhaif —

    Hadits dha’if itu ada dua macam:

    a. Hadits yang sangat dha’if.
    b. Hadits yang tidak terlalu dha’if.

    Tidak ada perselisihan di antara para ulama dalam menolak hadits yang terlalu dha’if.

    Hanya, ada perselisihan di antara ulama tentang membawakan/memakai hadits yang TIDAK TERLALU dha’if untuk:

    1. Fadhaa-ilul A’maal (keutamaan amal), maksudnya hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan- keuta-maan amal.

    2. At-Targhiib (memotivasi), yakni hadits-hadits yang berisi pemberian semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji pahala dan Surga.

    3. At-Tarhiib (menakuti), yakni hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.

    4. Kisah-kisah tentang para Nabi ‘alaihimush Shalatu wa sallam dan orang-orang shalih.

    5. Do’a dan dzikir, yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.

    POINT KEDUA

    — Larangan sembarangan membawakan hadits; atau bahkan dengan sengaja membawakan hadits dhaif, dan TANPA MENYEBUTKAN ke-dhaifannya. —

    Para ulama yang masih membawakan hadits-hadits dha’if dan menyandarkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tergolong sebagai pendusta, kecuali apabila mereka tidak tahu.

    Tentang masalah ini, Syaikh Abu Syammah berkata:

    “Perbuatan ulama yang membawakan hadits-hadits dha’if adalah suatu KESALAHAN yang nyata bagi orang-orang yang mengerti hadits, ulama’-ulama’ ushul dan pakar-pakar fiqih, bahkan wajib atas mereka untuk menerangkannya jika ia mampu.

    Jika ulama’ tidak mampu menerangkan-nya, maka ia termasuk orang-orang yang diancam oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya:

    عَنْ سَمُرَةََ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنَ.

    “Dari Samurah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    ‘Barangsiapa yang menyam-paikan hadits dariku, dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.’”

    [HR. Muslim (I/9).]

    Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa TIDAK BOLEH menyebutkan suatu hadits dha’if; melainkan ia WAJIB menerangkan kelemahannya.

    [Lihat al-Baits ‘ala Inkari Bida’ wal Hawadits (hal. 54) dan Tamaamul Minnah fiit Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah hal. 32-33.]

    Penjelasan:

    Menurut hadits di atas seorang dianggap dusta apa-bila ia membawakan hadits-hadits yang diketahuinya dusta (tidak benar).

    Ada dua golongan ulama yang terkena ancaman hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, yaitu: Ulama yang tahu ke-dha’if-an hadits dan yang tidak tahu. Dalam masalah ini ada dua hukum:

    -Kondisi Pertama-

    Jika ulama, ustadz atau kyai tersebut TAHU tentang lemahnya hadits-hadits yang dibawakan itu, te-api ia tidak menerangkan kelemahannya, maka ia ter-masuk PENDUSTA (curang) terhadap kaum Muslimin dan termasuk yang diancam oleh hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

    yakni hadits:

    مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنَ.

    ‘Barangsiapa yang menyam-paikan hadits dariku, dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.’”

    [HR. Muslim (I/9).]

    Imam Ibnu Hibban berkata:

    “Di dalam kabar ini (hadits Samurah di atas), ada dalil yang menunjukkan bahwa

    Seseorang yang menyampaikan hadits atau meriwayat-kannya yang TIDAK SAH (SHAHIIH/HASAN) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu menyampaikan atau meriwayatkan hadits yang LEMAH atau yang diada-adakan oleh manusia sedang dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk PENDUSTA.

    Hal ini lebih keras lagi apabila ulama (ustadz, kyai-pent) tersebut yakin bahwa itu dusta tapi masih disampaikan juga.

    Hadits ini juga terkena kepada orang yang masih meragukan ke-shahih-an atau kelemahan apa-apa yang ia sampaikan atau riwayatkan.”

    [Lihat adh-Dhua’faa oleh Ibnu Hibban (I/7-8).]

    Imam Ibnu Abdil Hadi menukil perkataan Ibnu Hibban ini dalam kitab ash-Sharimul Mankiy (hal. 165-166) dan beliau menyetujuinya.

    -Kondisi Kedua-

    Jika si ulama, ustadz atau kyai tidak mengetahui kelemahan hadits (riwayat), tetapi dia masih menyampai-kan (meriwayatkan) juga, maka dia termasuk orang-orang yang berdosa, karena dia telah berani menisbatkan (me-nyandarkan) hadits atau riwayat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ia mengetahui sumber hadits (riwayat) itu.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.

    “Dari Samurah, ia berkata: “Telah bersabda Ra-sulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Cukuplah seorang dikatakan BERDUSTA, apabila ia menyampaikan tiap-tiap apa yang ia dengar.’” [HSR. Muslim (I/10).]

    Imam Ibnu Hibban berkata dalam kitab adh- Dhu’afa’ (I/9):

    “Di dalam hadits ini (no. 5) ada ancaman bagi se-seorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu shahih.”

    [Lihat Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘alaa Fiqhis Sunnah hal. 33.]

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولً

    “Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mem-punyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-an jawabnya.”

    [Al-Israa’: 36]

    POINT KETIGA

    –SYARAT-SYARAT yang PERLU DIPERHATIKAN dalam meriwayatkan/membawakan hadits dhaif, MENURUT para ulama yang membolehkan dalam meriwayatkan/mengamalkan hadits dhaif–

    al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany ASY-SYAFI’IY berkata tentang syarat-syarat diterimanya hadits dha’if untuk fadhaa-ilul a’maal, beliau berkata:

    “Sudah masyhur di kalangan ulama bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tasaahul (bermudah-mudah/menggampang-gampangkan) dalam membawakan hadits-hadits fadhaa-il kendatipun banyak di antaranya yang dha’if bahkan ada yang maudhu’ (palsu).

    Oleh karena itu WAJIBLAH atas ulama untuk mengetahui SYARAT-SYARAT dibolehkannya beramal dengan hadits dha’if…

    1. yaitu ia (ulama) harus MEYAKINI bahwa itu DHAIF

    2. dan TIDAK BOLEH DIMASYHURKAN agar orang tidak mengamalkannya yakni tidak menjadikan hadits dha’if itu syari’at atau mungkin akan disangka oleh orang-orang jahil bahwa hadits dha’if itu mempunyai Sunnah (untuk diamalkan).

    [Tamaamul Minnah hal. 36.]

    Syaikh Muhammad bin Abdis Salam telah menjelaskan hal ini dan hendaklah seseorang berhati-hati terkena ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits Samurah di atas).

    Bila sudah ada ancaman ini bagaimana mungkin kita akan mengamalkan hadits dha’if?

    Dalam hal ini (ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) terkena bagi orang yang mengamalkan hadits dha’if dalam masalah ahkam (hukum-hukum) ataupun fadhaa-ilul a’maal, karena semua ini termasuk syari’at.

    [Tabyiinul A’jab (hal. 3-4) dinukil oleh Syaikh al-Albany dalam Tamamul Minnah (hal. 36)]

    Al-Hafizh as-Sakhawy, murid al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany t, beliau berkata: “Aku sering mendengar syaikhku (Ibnu Hajar) berkata:

    “Syarat-syarat bolehnya beramal dengan hadits dha’if:

    1. Hadits itu tidak sangat lemah.

    Maksudnya, tidak boleh ada rawi pendusta, atau dituduh berdusta atau hal-hal yang sangat berat kekeliruannya.

    2. Tidak boleh hadits dha’if jadi pokok,

    Tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.

    3. Tidak boleh hadits itu dimasyhurkan,

    Yang akan ber-akibat orang menyandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.”

    Imam as-Sakhawi berkata:

    “Syarat-syarat kedua dan ketiga dari Ibnu Abdis Salam dan dari shahabatnya Ibnu Daqiqiil ‘Ied.”

    Imam ‘Alaiy berkata:

    “Syarat pertama sudah disepakati oleh para ulama hadits.”

    [ Lihat al-Qaulu Badi’ fii Fadhlish Shalah ‘alal Habibisy Syafi’i (hal. 255), oleh al-Hafizh as-Sakhawi, cet. Daarul Bayan Lit Turats]

    Bila kita perhatikan syarat pertama saja, maka kewajban bagi ulama dan orang yang mengerti hadits, untuk menjelaskan kepada ummat Islam dua hal yang penting:

    Pertama:

    Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits dha’if dan yang shahih agar orang-orang yang mengamalkannya tidak meyakini bahwa itu shahih, hingga mereka tidak terjatuh ke dalam bahaya dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kedua:

    Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits yang sangat lemah dengan hadits-hadits yang tidak sangat lemah.

    Bagi para ulama, ustadz, dan kyai yang masih bersikeras bertahan untuk tetap memakai hadits-hadits dha’if untuk fadhaaa-ilul a’maal, saya ingin ajukan pertanyaan untuk mereka:

    “Sanggupkah mereka memenuhi syarat pertama, kedua dan ketiga itu?”

    Bila tidak, jangan mereka mengamalkannya.

    Kemudian apa sulitnya bagi mereka untuk mengambil dan membawakan hadits-hadits yang shahih saja yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya….

    Apalagi sekarang -alhamdulillah- Allah sudah mudahkan adanya kitab-kitab hadits yang sudah dipilah-pilah antara yang shahih dan yang dha’if.

    Dan kita berusaha untuk memiliki kitab-kitab itu, sehingga dapat membaca, memahami, mengamalkan dan menyampaikan yang benar kepada ummat Islam.

    POINT KEEMPAT

    –Adab adab dalam meriwayatkan hadits dhaif–

    TIDAK BOLEH meriwayatkannya dengan lafazh jazm (menetapkan/memastikan)

    a. pendapat al Imam Ibnush Shalah

    Apabila orang menyampaikan (meriwayatkan) hadits dha’if, maka TIDAK BOLEH anda berkata:

    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ.

    “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    Atau lafazh jazm yang lain, yakni lafazh yang memastikan atau menetapkan, seperti:

    فَعَلَ, رَوَى، قاَلَ.

    Boleh membawakan hadits dha’if itu dengan lafazh:

    رُوِيَ.

    “Telah diriwayatkan atau telah sampai kepada kami begini dan begitu.”

    Demikianlah seterusnya hukum hadits-hadits yang masih diragukan tentang shahih dan dha’ifnya.

    TIDAK BOLEH kita berkata atau menulis untuk hadits dan riwayat yang belum jelas dengan kalimat.

    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ.

    Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    b. Pendapat Imam an-Nawawi ASY SYAFI’IY rahimahullah

    Telah berkata para ulama ahli tahqiq dari pakar-pakar hadits,

    “Apabila hadits-hadits itu dha’if TIDAK BOLEH kita katakan:

    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ.

    “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    atau:

    فَعَلَ :

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan,”

    atau:

    أَمَرَ“:

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan,”

    atau:

    نَهَى“:

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang,”

    atau:

    حَكَمَ :

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukum.”

    Dan lafazh-lafazh lain dari jenis lafazh jazm (pasti atau menetapkan).

    TIDAK BOLEH juga mengatakan:

    رَوَى أَبُوْ هُرَيْرَةَ.

    “Telah meriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.”

    atau:

    ذَكَرَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ .

    “Telah menyebutkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.”

    Dan yang seperti itu dari shighat-shighat (bentuk-bentuk) jazm (menetapkan/memastikan). Tidak boleh juga menyebutkan riwayat yang lemah dari tabi’in dan orang-orang yang sesudahnya dengan shighat-shighat jazm.

    Seharusnya kita mengatakan hadits atau riwayat lemah dan hadits atau riwayat yang tidak kita ketahui derajat-nya dengan perkataan:

    رُوِيَ يُرْوَى/ “Telah diriwayatkan.

    نُقِلَ عَنْهُ “Telah dinukil darinya.

    يُذْكَرَ/ ذُكِرَ “Telah disebutkan.

    حُكِيَ/يُحْكَى “Telah diceritakan.

    Dan yang seperti itu disebut shighat tamridh (bentuk lafazh yang berarti ada penyakitnya), dan tidak boleh dengan shighat jazm.

    POINT KELIMA

    –Wajibnya mengingatkan kaum muslimin dari hadits dhaif–

    Al Imam Ahmad Muhammad Syakir berkata

    Aku berpendapat (sekarang ini) wajib menerangkan hadits-hadits yang dha’if di dalam setiap keadaan (dan setiap waktu), karena bila tidak diterangkan kepada ummat Islam tentang hadits-hadits dha’if, maka orang yang mem-baca kitab (atau mendengarkan) akan menyangka bahwa hadits itu shahih, lebih-lebih bila yang menukilnya atau menyampaikannya itu dari kalangan ulama Ahli Hadits.

    Hal tersebut karena ummat Islam yang awam menjadikan kitab dan ucapan ulama itu sebagai pegangan bagi mereka.

    Kita wajib menerangkan hadits-hadits dha’if dan tidak boleh mengamalkannya baik dalam ahkam maupun dalam masalah fadhaa-ilul a’maal dan lain-lainnya.

    Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah (berdalil) MELAINKAN dengan apa-apa yang sah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits shahih atau hasan.

    [Lihat al-Ba’itsul Hadits Syarah Ikhtishar ‘Uluumil Hadits oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 76), cet. Maktabah Daarut Turats th. 1399 H atau I/278, ta’liq: Syaikh Imam al-Albany cet. I Daarul ‘Ashimah th. 1415 H]

    Disalin website ALMANHAJ dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M

    Sumber: http://www.almanhaj.or.id/


  3. yudha

    ijin copy ya.Jazakallohu khoiro,ilmu yang bermangfaat

Leave a Reply


+ seven = 11