Hukum Meriwayatkan dan Mengamalkan Hadits-Hadits Dhåif Untuk Fadhåå-ilul A'mal*, Targhib** dan Tarhib***, dan lain-lain

Oleh: Al-Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat

Dalam membahas masalah ini saya (Al-Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat) bagi menjadi dua bagian:



PEMBAHASAN PERTAMA

Menjelaskan beberapa kesalahan dan kejahilan dalam memehami perkataan sebagian ulama tentang mengamalkan hadist dhå’if untuk fadhåå-ilul a’mal :

Kebanyakan dari mereka (para penyebar hadits dhå’if untuk fadhåil amal) menyangka bahwa masalah mengamalkan hadist-hadist dhå’if untuk fadhaa-ilul a’mal atau targhib dan tarhib tidak ada khilaf lagi – tentang bolehnya- diantara para ulama. Inilah persangkaan yang jahil. Padahal , kenyataannya justru sebaliknya.

Yakni telah terjadi khilaf diantara mereka para ulama sebagaimana diterangkan secara luas di dalam kitab-kitab musthålah. dan menurut mazhab Imam Malik , Syafi’i , Ahmad bin Hambal , Yahya bin Ma’in, Abdurahman bin Mahdi , Bukhari , Muslim , Ibnu Abdil Baar , Ibnu Hazm dan para imam ahli hadist lainnya , mereka semua TIDAK MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist dhå’if SECARA MUTLAK meskipun untuk fadhailul a’mal dan lain-lain. Tidak syak lagi inilah mazhab yang haq. Karena tidak ada hujjah kecuali hadist-hadist yang telah tsabit dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam . Cukuplah saya turunkan perkataan Imam Syafi’I :” idza shåhhal hadistu fahuwa mazhabiy”, (yang artinya) apabila telah sah suatu hadist, maka itulah mazhabku.

Mereka memahami bahwa mengamalkan hadist dhå’if itu untuk menetapkan (itersebutat) tentang suatu amal. Baik mewajibkan , mensunnatkan (mustahab) , mengharamkan atau memakruhkannya meskipun tidak datang nash dari Al kitab dan As Sunnah.

Seperti mereka telah menetapkan dengan hadist-hadist dhå’if beberapa macam shalat sunat dan ibadah lainnya yang sama sekali tidak ada dalil shahih dari As Sunnah secara tafsil (terperinci) yang menerangkan tentang sunatnya. Kalaupun demikian pemahaman mereka dalam mengamalkan hadist-hadist dhå’if untuk fadhååilul a’mal.

Allahumma! Memang demikianlah yng selama ini mereka amalkan. Maka, jelaslah bahwa mereka telah menyalahi ijma ulama sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Karena barang siapa yang menetapkan (istbat) tentang sesuatu amal yang tidak ada nashnya dari al Kitab dan As Sunnah baik secara jumlah (garis besarnya) dan tafsil atau secara tafsil (rinci) saja, maka sesungguhnya ia telah membuat syariat yang tidak diizinkan oleh Allah Jalla wa ‘Alaa.

Kepada mereka ini , Imam Syafi’i , telah memperingatkan dengan perkataannya yang masyhur :”man istahsana faqåd syarå’a”, (yang artinya) barangsiapa yang menganggap baik (istihsan) -yakni tentang suatu amal yang tidak ada Nash dan Sunnah- maka sesungguhnya ia telah membuat syariat baru !!!!” Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i yang terkenal dikalangan salaf sebagai naashirus sunnah (pembela sunnah).


Ketahuilah! Bahwa yang dimaksud oleh sebagian ulama boleh beramal dengan hadist-hadist dhå’if untuk fadhåil a’amal atau targhib dan tarhib , ialah apabila yelah datang nash yang shahih secara tafsil (rinci) yang menetapkan tentang suatu amal – baik wajib, sunnat,haram atau makruh- kemudian datang hadist-hadist dhå’if (yang ringan dhå’ifnya) yang menerangkan tentang keutamaannya (fadhå’il a’mal) atau targhib dan tarhib dengan syarat hadist-hadist tersebut tidak sangat dhå’if atau maudhu’ (palsu), maka inilah yang dimaksud.

Salah faham dengan perkataan Imam Ahmad bin Hambal dan ulama salaf lainnya yang semakna perkataannya dengan beliau yang menyatakan :

“Apabila kami meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang halal, haram , sunan (sunat-sunat) dan ahkam, KAMI KERASKAN (yakni kami periksa dengan ketat) sanad-sanadnya. Dan apabila kami meriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wa sallam tentang FADHA ILUL A’MAL dan tidak menyangkut hukum dan tidak marfu’ (tidak disandarkan kepada beliau shalallahuu alaihi wa sallam ) KAMI PERMUDAH di dalam (memeriksa) sanad-sanadntya. (shahih riwayat Imam Al Khatib al Bhagdhadi dikitabnya al kifaayah fi ilmir riwaayah hal 134)

Perkataan Imam Ahmad diatas diriwayatkan juga oleh Imam-imam yang lain (banyak sekali) tetapi tanpa tambahan : dan yang tidak marfu . Maksudnya : Riwayat-riwayat mauquf (yakni perkataan dan perbuatan shahabat) atau riwayat-rwayat dari tabi’in dan atha’ut taabi’in. Kebanyakan dari mereka dalam memahami perkataan Imam Ahmad diatas, bahwa BELIAU MEMBOLEHKAN mengamalkan hadist-hadist dhå’if untuk fadha ilul a’mal !!

Jelas sekali , pemahaman diatas keliru bila ditinjau dari beberapa sudut ilmiah, diantaranyaa ialah :” bahwa yang dimaksud oleh Imam Ahmad bin Hambal dengan tasahul (bermudah-mudah) dalam fadha ilul a’mal ialah hadist-hadist yang DERAJATNYA HASAN (bukan hadist-hadist dhå’if meskipun ringan kelemahannya). Karena , hadist pada zaman beliau dan sebelumnya tidak terbagi kecuali menjadi 2 bagian : SHAHIH dan dhå’if.


SEDANGKAN HADIST DHÅ’IF TERBAGI PULA MENJADI 2 BAGIAN

Pertama: Hadist-hadist dhå’if yang ditinggalkan , yakni tidak dapat diamalkan atau dijadikan hujjah.

Kedua: Hadist-hadist dhå’if yang dipakai, yakni dapat diamalkan atau dijadikan hujjah .

Yang terakhir ini kemudian dimasyhurkan dan ditetapkan sebagai salah satu bagian dari derajat hadist oleh Imam Tirmidzi dengan istilah HADIST HASAN. Jadi , Imam Tirmidzi yang PERTAMA KALI membagi derajat hadist menjadi bagian : SHAHIH , HASAN dan DHÅ’IF.

Demikianlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qoyyim dan para ulama lainnya.



PEMBAHASAN KEDUA

Menjelaskan kesalahan mereka yang TIDAK PERNAH memenuhi syarat-syarat yang telah dibuat oleh sebagian ulama dalam mengamalkan hadist dhå’if untuk fadha ilul a’mal atau targhib dan tarhib.

Ketahuilah !! Sesungguhnya ulama-ulama kita yang TELAH MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist-hadist dhå’if diatas, (namun mereka) telah membuat BEBERAPA PERSYARATAN yang SANGAT BERAT dan KETAT. Persayaratan tersebut tidak akan dapat dipenuhi kecuali oleh mereka (ulama) yang membuatnya atau ulama-ulama yang memiliki kemampuan sangat tinggi dalam ilmu hadistnya (para muhadist).

Dibawah ini saya turunkan sejumlah persyaratan yang telah dibuat oleh para ulama kita Kemudian , saya iringi dengan beberapa keterangan yang sangat berfaedah. Insya Allahau ta’ala.

Syarat pertama

Hadist tersebut khusus untuk fadhailul amal atau targhib dan tarhib. Tidak boleh untuk aqidah atau ahkam (spt hukum halal, haram ,wajib, sunat , makruh) atau tafsir Qur’an. Jadi , seorang yang akan membawakan hadist-hadist dhå’if , terlebih dahulu HARUS MENGETAHUI mana hadist dhå’if yang MASUK bagian fadha ilul a’mal dan mana hadist 
dhå’if yang masuk bagian aqidah atau ahkam.

Tentu saja persyaratan pertama ini CUKUP BERAT dan tidak sembarang orang dapat mengetahui perbedaan hadist-hadist dhå’if diatas kecuali mereka YANG BENAR-BENAR AHLI HADIST.

Kenyataannya, kebanyakan dari mereka (khususnya kaum KHUTOBAA’- para penceramah / khotib) tidak mampu dan telah melanggar persyaratan pertama ini.

Berapa banyak hadist-hadist dhå’if tentang aqidah dan ahkam yang mereka sebarkan melaului mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan!!!!

Syarat kedua

Hadist tersebut TIDAK SANGAT DHOIF apalagi MAUDHU’ , BATIL , MUNGKAR dan Hadist-hadist yang TIDAK ADA ASALNYA.

Yakni, yang boleh dibawakan hanyalah hadist-hadist yang ringan (kelemahannya). Persyaratan kedua ini LEBIH BERAT dan SULIT dibandingkan dengan syarat yang pertama. Karena, untuk mengetahui suatu hadist itu derajatnya SHAHIH , HASAN, dhå’if ringan , sangat dhå’if , dan seterusnya.

Bukanlah pekerjaan yang mudah sebagaimana telah dimaklumi oleh mereka yang faham betul dengan ilmu yang mulia ini.

Pekerjaan tersebut merupakan yang sangat berat sekali yang hanya dapat dikerjakan oleh para AHLI HADIST yang benar-benar ahli. Dan persyaratan kedua inipun DILANGGAR besar-besaran . Berapa banyak hadist yang batil dan mungkar , sangat dhå’if ,
(apalagi) maudhu’ ,yang tidakada asalnya yang mereka sebarkan dengan lisan maupun tulisan.

Anehnya orang-orang jahil ini kalau dinasehati oleh ahli ilmu dengan cepat mereka menjawab :”Dibolehkan untuk Fadha ilul a’mal”. Lihatlah betapa sempurnanya kejahilan mereka !!!

Syarat ketiga

Hadist tersebut TIDAK BOLEH DI-I’TIQODKAN (diyakini) sebagai sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebab bisa terkena ancaman beliau : yakni berdusta atas nama beliau. (Dapat dibaca tulisan saya : Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam). Persyaratan ketiga ini SAMA SEKALI tidak dapat dipenuhi, yang membawakan dan mendengarkan betul-betul MENYAKINI sebagai sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam

Syarat keempat

Hadist tersebut harus mempunyai dasar yang umum dari hadist yang shahih . Persyaratan yang ke-4 ini selain susah dan lagi-lagi mereka tidak dapat memenuhinya, juga apabila TELAH ADA hadist yang shahih untuk apalagi segala macam hadist-hadist yang dhå’if.

Syarat kelima

Hadist tersebut TIDAK BOLEH DIMASYHURKAN (DIPOPULERKAN). Menurut Imam ibnu
Hajar rahimahulllah , apabila hadist-hadist dhå’if itu dipopulerkan, niscaya akan terkena ancaman berdusta atas nama nabi Shalallahu alaihi wa sallam.

Lihatlah ! Ramai-ramai mereka menyebarkan dan mempopulerkan hadist-hadist dhå’if , sangat dhå’if , bahkan maudhu’ sehingga umat lebih mengenal hadist-hadist tersebut daripada hadist shahih. Innalillahi wa inna ilahi rooji’un !! Alangkah terkenanya mereka dengan ancaman nabi Shalallahu alaihi wa sallam.

Syarat keenam

Wajib memberikan bayan (PENJELASAN) bahwa hadist tersebut dhå’if saat menyampaikan atau membawakannya. Kalau tidak , niscaya mereka terkena kepada kepada ancaman menyembunyikan ilmu dan masuk ke dalam ancaman Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :” Ancaman berdusta atas nama Nabi Shalallahu alaihi wa sallam”.

Demikian ketetapan para muhaqiq dari ahli hadist dan ulama ushul sebagaimana diterangkan oleh Abu Syaamah (baca Tamaamul minnah : Al Bani hal :32)

Inilah hukum orang yang “diam”, tidak menjelaskan hadist-hadist dhå’if yang ia bawakan untuk fadhailul a’mal.

Maka bagaimana dengan orang yang “diam” terhadap riwayat-riwayat yang bathil , sangat dhå’if, atau maudhu untuk fadhailul a’mal ??? Benarlah para ulama kita – rahimahumullah- bahwa mereka terkena ancaman menyembunyikan ilmu dan berdusta atas nama nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Syarat ketujuh

Dalam membawakannya TIDAK BOLEH menggunakan lafadz-lafadz jazm (yang menetapkan) seperti :”Nabi shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda atau mengerjakan sesuatu atau memerintahkan dan melarang dan lain-lain yang menunjukkan ketetapan atau kepastian bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa sallam BENAR-BENAR bersabda dan seterusnya.

Tetapi wajib menggunakan lafadz TAMRIDH (yaitu lafadz yang TIDAK MENUNJUKKAN sebagai sesuatu ketetapan) ,

Seperti : Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam dan yang serupa dengannya dari lafadz tamridh sebagaimana telah dijelskan oleh imam Nawawi dalam muqoddimah kitabnya al majmu’syarah muhadzdzab (1/107) dan para ulama lainnya.

Persyaratannya yang terakhir ini , selain mereka tidak memiliki kemampuan , juga tidak bisa dipakai lagi pada jaman kita sekarang (dimana ilmu hadist sangat gharib / asing sekali).

Karena kebanyakan dari ahli ilmu sendiri (kecuali ahli hadist) teristimewa kaum khutobaa / para khatib dan orang awam tidak dapat membedakan antara lafadz jazm dan tamridh.

Artikel ini dikutip dari risalah :

Berhati-Hati Dalam Meriwayatkan Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam Dan Beberapa Kesalahan Dalam Meriwayatkan Dan Hukum Meriwayatkan Dan Mengamalkan Hadist-Hadist dhå’if Untuk Fadhaa-Ilul A’mal , Tagrib Dan Tarhib Dan Lain-Lain, Penulis: Al-Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat hafizhåhullåh

* Fadhåå-il A’mal = Keutamaan amal
** Targhib = Anjuran, dorongan, motivasi, janji pahala, balasan, surga
***Tarhib= Ancaman, peringatan, pantangan, akibat buruk, dosa dan neraka)

Maraaji’ :

Al Muhalla (1/2) Ibn Hazm
Al-Fash fil-milal wal-ahwaa wan-nihal (2/222) Ibn Hazm , tahqiq Doktor muhammad Ibrahim Nashr dan Doktor Abdurrahman ‘Umairah.
Al-Majmu’ Syarah Muhadz-dzab (1/101 dan 107) imam Nawawi.
Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (18/23-25 dan 65-66 dan 249, 1/250-252)
A’laamul Muwaqi’in (1/31-32) Ibnul Qayyim.
Al-Kifaayah fil-ilmir-riwaayah (hal: 133 dan 134) Imam Al Khatib al Bhagdadi.
Al-Madkhal (hal :29) Imam Hakim.
Muqaddimaha Ibnu Shallah (hal : 49) Imam Ibnu Shalah.
An-Nukat ‘ala Kitabi Ibnu Shalah (2/887-888) Ibnu Hajar
Tadribur-raawi (1/298-299) Imam As Suyuthi
Al-Qaulul- Badii’fish Shalaati alal Habibisy-Syafi’I (hal : 258-260 akhir kitab) Imam As Shakhaawiy.
Qawwwa’idut tahdist (hal :113-121) Al Qaasimi.
Taujihun Nazhar ila Ushulil Aatsar (hal 297)
Al I’thishom (1/224-231) Imam Syaathibiy , tahqiq ‘Allamah Sayyid Rasyid Ridha.
Ikhtishar ‘Ulumul Hadist (hal : 90-92) Ibnu Katsir tahqiq Ahmad Syakir.
Muqoddimah al Adzkar (hal : 5-6) Imam Nawawi
Tamaamul Minnah (hal : 32-40) al Albani
Muqoddimah Shahih Jami’us Shaghir (1/44-51) Al Albani
Muqoddimah dhå’if Jami’us Shaghir (1/44-51) Al Albani
Silsilatul AhaadistAdh dhå’ifah wal Maudhu’ah (3/21-26) al Albani
21. Muqaddimah Shahih Targhib , Al Albani.

Leave a Reply


four + 6 =