Keutamaan untuk bangun dan beribadah pada sepertiga terakhir malam

Niatkanlah, tekadkan dengan kuat, dan berusahalah untuk bangun di SEPERTIGA terakhir malam, karena terdapat keutamaan besar dalam waktu tersebut, yang sangat dianjurkan bagi kita untuk menggunakannya dengan beribadah kepadaNya1

Mengamalkan perintahNya dalam kitabNya

Allaah berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ

Dan pada sebahagian malam hari ber-tahajud-lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

(Al-Israa: 79)

Mencocoki sifat orang-orang yang dipuji Allaah

Allaah berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”

[Adz-Dzaariyaat/51 : 17-18]

Allaah berfirman:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.

(As-Sajdah: 16)

Sebagai wujud syukur kita kepadaNya, dan berharap semoga termasuk golongan hamba-hambaNya yang bersyukur

‘Aisyah radhiyaallahu ‘anha pernah berkata, “Apabila Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat (malam), beliau berdiri hingga telapak kakinya merekah.” Lalu ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata, “Kenapa engkau melakukan semua ini. Padahal Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Lalu beliau menjawab.

يَا عَائِشَةُ، أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا.

“Wahai ‘Aisyah, apakah tidak layak aku menjadi hamba yang banyak bersyukur.”

[HR al BUkhaariy, Muslim, dll]

Mencontoh kebiasaan orang shalih terdahulu

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وقُرْبَةٌ إِلى اللَّهِ تعالى، ومِنْهَاةٌ عَنِ الإثمِ، وتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ

“Kerjakanlah shalat malam, sesungguhnya shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menjadi penghalang dari perbuatan dosa, dan menghapuskan kesalahan.”

(Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidziy, al Haakim dan ia menshahiihkannya, disepakati adz Dzahabiy; dihasankan pula oleh al ‘Iraaqiy)

Melakukan seutama-utamanya shalat sunnah

Rasuulullaah bersabda:

وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةَ صَلاةُ اللَّيْلِ

Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam

(HR. Muslim)

Dapat menjadi sebaik-baik hamba

Rasuulullaah bersabda:

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ.

“Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah, seandainya ia mau shalat malam.”

[HR al Bukhaariy, Muslim, dan selainnya]

Mencari kemuliaan disisi Allaah dengan shalat malam

Rasuulullaah bersabda:

و اعلم أن شرف المؤمن قيام الليل

ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang Mukmin adalah sholat waktu malam

(HR. Al-Hakim & Al-Baihaqi; derajatnya: Hasan Lighayrihi, lihat Shahih Jaami’ush Shaghiir, no. 73)

Mendapatkan kecintaan Allaah

Rasuulullaah bersabda:

أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام

“Shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Nabi Daud Alaihissalam…

وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

Nabi Daud Alaihissalam tidur hingga pertengahan malam lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya…”

(HR. Bukhariy)

Rasuulullaah bersabda:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”

(HR al Bukhaariy)

Rasuulullaah bersabda:

ثَلاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ، يَضْحَكُ إِلَيْهِمْ وَيَسْتَبْشِرُ بِهِمْ

Tiga golongan yang mereka itu DICINTAI ALLAAH dan menjadikan Allah tertawa kepada mereka dan Allah senang melihat mereka

(diantaranya)

وَالَّذِي لَهُ امْرَأَةٌ حَسْنَاءُ وَفِرَاشٌ لَيِّنٌ حَسَنٌ ، فَيَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ

Dan seorang yang memiliki istri cantik dan kasur yang lembut, kemudian ia bangun malam (dan shalat)

فَيَذَرُ شَهْوَتَهُ فَيَذْكُرُنِي وَيُنَاجِينِي وَلَوْ شَاءَ لَرَقَدَ

Maka (Allah berfirman): Dia meninggalkan syahwatnya dan mengingatKu, (padahal) jika dia mau, dia akan tidur

[Hasan, HR. al Haakim dan ath Thabraniy, terdapat dalam shahiih targhiib wat tarhiib]

Menggapai berbagai derajat

Rasuulullaah bersabda:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ

“Barangsiapa yang bangun malam (kemudian shalat) dengan membaca sepuluh ayat, maka ia tidak dicatat sebagai golongan al-ghaafiliin (orang-orang yang lalai).

وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ

Dan barangsiapa bangun malam (kemudian shalat) dengan membaca seratus ayat, maka ia dicatat sebagai golongan al-qaanitiin (orang-orang yang patuh).

وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

Dan barangsiapa (kemudian shalat) dengan seribu ayat, maka ia dicatat sebagai golongan al-muqonthiriin (orang-orang berharta banyak).”

(HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaymah dll; “terdapat dalam Silsilah Shahihah”)2

Tergolong orang yang banyak mengingat Allaah

Rasuulullaah bersabda:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ

Jika seseorang membangunkan istrinya pada malam hari, kemudian merkea berdua melakukan shalat atau shalat 2 (DUA) rakaat, maka mereka berdua akan dimasukkan kedalam kategori adz-dzaakiriin (laki-laki yang banyak mengingat Allah) dan adz-dzaakiraat (wanita yang banyak mengingat Allah)

[Shahiih, HR. Nasaa-iy, Ibnu Maajah dan lainnnya; dishahiihkan syaikh al-albaaniy dalam shahiihut targhiib wat tarhiib]

Sedangkan Allaah berfirman:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

(al ahzaab: 35)

Didoakan rahmat Allaah oleh Rasuulullaah

Rasuulullaah bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ

Semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun malam, lalu ia melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya, jika dia menolak, maka ia memercikan air ke muka istrinya…

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang istri yang bangun malam, kemudian dia melaksanakan shalat, dan membangunkan suaminya, jika dia menolak, maka sang istri memercikkan air ke muka suaminya itu…

(HR. Abu Dawud Nasaa-iy, Ibnu Maajah dan Ibnu Khuzaymah; dihasankan syaikh al Albaaniy dalam shahiih targhiib wa tarhiib no. 625)

Diharapkan dengan shalat malam tersebut menggiringnya menjadi orang yang berbakti kepada Allaah

Rasuulullaah bersabda:

جعل الله عليكم صلاة قوم أبرار ، يقومون الليل و يصومون النهار ، ليسوا بائمة و لا فجار

“Semoga Allah menjadikan atas kamu sholatnya orang-orang yang banyak berbakti, mereka sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari, mereka tidak mempunyai dosa dan tidak pula melakukan kejahatan.”

(HR. Abd al-Humaid dan abd-Dhiyaa’ al Maqdisiy; terdapat dalam ash shahiihah)

Doanya dikabulkan, permintaannya diberikan, taubatnya diterima

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda:

ي…َنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ

“Rabb kita turun ke langit dunia pada SETIAP MALAM yaitu ketika SEPERTIGA MALAM TERAKHIR.

Dia berfirman:

مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ

Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan.

مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ

siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan

مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”

[Hr Bukhariy dan Muslim]

Beliau juga bersabda:

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ ، يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya pada malam hari itu ada saat dimana tidak ada seorang Muslim pun yang meminta urusan dunia dan akhirat kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya, hal itu terjadi SETIAP MALAM.

(HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

“Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،

Laa ilaaha illallahu wahdah, laa syariikalah

Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Lahul mulku wa lahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qadiir

Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji dan Dia Maka Kuasa atas segala sesuatu.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،

subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah wallahu akbar

Maha Suci Allah, dan segala puji hanya milik Allah, dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan Allah Maha Besar

وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ،

wa laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim

Dan tidak ada daya upaya (untuk melakukan ketaatan) dan tidak ada kekuatan (untuk meninggalkan kemaksiatan) kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

رَبِّ اغْفِرْلِيْ

rabbighfirliy

“.Ya Rabbku, ampunilah aku.”

Rasulullah kemdian bersabda:

…maka akan diampuni (dosa-dosanya), dan jika berdo’a maka akan dikabulkan dan jika dia bangkit lalu berwudhu` kemudian shalat maka akan diterima shalatnya.

(HR. Al-Bukhariy bersama Fathul Baarii 3/39 dan lainnya)3

Mendapatkan jiwa yang baik, serta semangat melakukan aktifitas di pagi hari

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan dan syaitan mengikatkannya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya.

عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ

[lalu (dikatakan)] “…kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak…” Jika dia bangun dan berdzikir kepada Allah maka lepaslah satu tali ikatan.

فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ

Jika kemudian dia berwudhu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya (ia mendapatkan) SEMANGAT dalam beraktifitas serta JIWA YANG BAIK.

وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya (ia mendapati) jiwa yang buruk serta malas”.

(HR. Bukhariy)

Dalam riwayat Ibn Maajah:

فَيُصْبِحُ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ قَدْ أَصَابَ خَيْرًا

Dan pada pagi harinya ia akan menjadi SEMANGAT dalam beraktifitas serta JIWA YANG BAIK, dan telah mendapatkan kebaikan.

وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ أَصْبَحَ كَسِلًا خَبِيثَ النَّفْسِ لَمْ يُصِبْ خَيْرًا

Namun jika tidak, pada pagi harinya ia akan menjadi malas, jiwa yang buruk dan tidak mendapatkan kebaikan. ”

(HR. Ibnu Maajah; terdapat dalam shahiih ibni maajah)

Shalat malam dapat menghantarkan pengamalnya kepada surga

Rasuulullaah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَام،َ وَصِلُوا اْلأَرْحَامَ، وَصَلُّوا باِللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْـجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.”

(HR Ahmad, tirmidziy, ibnu maajah, dll; terdapat dalam ash shahiihah)

Semoga bermanfa’at

Catatan Kaki

  1. Ingat! Niat yang benar lagi jujur, disertai tekad yang kuat dan nampak usahanya… Maka kalaupun kita tertidur, maka kita mendapatkan pahala berdasarkan niat kita, dan tidur kita adalah sedekah!

    Rasuululllaah bersabda:

    لَهُ صَلاَةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلاَتِهِ . وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ

    Tidaklah seseorang yang (bertekad kuat) akan mengerjakan solat malam, lalu tertidur, Allah pasti menulis untuknya pahala shalat malam dan tidurnya merupakan sedekah untuknya.

    (HR an Nasaa-iy, dishahiihkan syekh al albaaniy)

  2. Patut diingat!

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

    “Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kalian sanggupi”

    (HR al Bukhaariy, Muslim dan selainnya)

    Beliau juga bersabda:

    عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا إِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

    “Hendaknya kalian melakukan sesuatu yang kalian mampui. Demi Allah, Allah Azzawajalla tidak akan pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling kontinyu (terus menerus).”

    Beliau juga bersabda:

    يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ



    “Wahai ‘Abdullah (ibn ‘Amr ibnul ‘Ash), janganlah engkau seperti si fulaan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”

    (HR. Bukhaariy)

    Jangan hanya karena mengincar banyaknya pahala serta tingginya derajat… Menjadikan kita langsung shalat 11/13 raka’at dan membaca seribu ayat! Tapi hanya KITA KERJAKAN SEKALI… kemudian BERHENTI!

    Akan tetapi… Mulailah shalat malam dengan 1 raka’at (dengan 10 ayat), atau 2 raka’at (shalat malam) dan 1 witir, dan rutinkanlah… Karena amalan inilah yang lebih baik, dan yang lebih Allaah cintai… Kemudian…Ketika telah terbiasa, mulailah ditambah kuantitasnya, dengan tetap memperhatikan kualitasnya…

  3. Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata,

    “Allah menjanjikan melalui lisan (ucapan) Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa barangsiapa yang terjaga dari tidurnya (di malam hari) dalam keadaan, dia lidahnya selalu mengucapkan (kalimat) tauhid kepada Allah, tunduk pada kekuasaan-Nya, dan mengakui (besarnya limpahan) nikmat-Nya yang karenanya dia memuji-Nya, serta mensucikan-Nya dari (sifat-sifat) yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih (menyatakan kemahasucian-Nya), tunduk kepada-Nya dengan bertakbir (menyatakan kemahabesaran-Nya), dan berserah diri kepada-Nya dengan (menyatakan) ketidakmampuan (dalam segala sesuatu) kecuali dengan pertolongan-Nya.

    Sesungguhnya (barangsiapa yang melakukan ini semua) maka jika dia berdoa kepada-Nya akan dikabulkan, dan jika dia melaksanakan shalat akan diterima shalatnya. Maka bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala”

    (dinukil oleh Imam Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab “Fathul Baari”, 3/41).

    Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

    - Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

    “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah (mampu dilakukan) oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir (kepada Allah), sehingga zikir tersebut menjadi ucapan (kebiasaan) dirinya sewaktu tidur dan terjaga, maka Allah Ta’ala memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya”

    (Kitab “Fathul Baari”, 3/40).

    - Keutamaan mengucapkan zikir ini juga berlaku bagi orang yang terjaga di malam hari kemudian dia mengucapkan zikir ini (berulang-ulang) sampai dia tertidur.

    Imam an-Nawawi berkata,

    “Orang yang terjaga di malam hari dan ingin tidur (lagi) setelahnya, dianjurkan baginya untuk berzikir kepada Allah Ta’ala sampai dia tertidur. Zikir-zikir yang dibaca (pada waktu itu) banyak sekali yang disebutkan (dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), di antaranya … kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits di atas

    (kitab “al-Adzkaar”, hal. 79)

    - Di antara para ulama ada yang menjelasakan bahwa peluang dikabulkannya doa dan diterimanya shalat pada saat setelah mengucapkan zikir ini lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya

    (lihat kitab “Tuhfatul Ahwadzi” – 9/254)

    (faidah-faidah diatas dikutip dari: http://manisnyaiman.com/keutamaan-berzikir-ketika-terjaga-di-malam-hari/)

Leave a Reply


+ six = 10