Mengenal hati – Kebaikan Hati

Kebaikan Hati[1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[2] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[3] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” [Al-Anfaal: 2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” [At-Taghaabun: 11]

Sumber seluruh kebaikan dan kebahagiaan seorang hamba adalah kesempurnaan kehidupan hati juga kesempurnaan cahayanya. Kehidupan dan cahaya hati adalah modal segala kebaikan di dunia dan akhirat. Dengan kehidupan hati akan terwujud kekuatannya, pendengarannya, penglihatannya, rasa malunya, kehormatannya, keberaniannya, kesabaran-nya, seluruh akhlaknya yang mulia, kecintaannya akan kebaikan, dan kebenciannya akan keburukan.

Setiap kali kehidupan hati menguat, maka akan kuat pula sifat-sifat tersebut di dalam dirinya. Apabila kehidupannya melemah, maka akan lemah pula sifat-sifat tersebut di dalam dirinya.
Rasa malu terhadap keburukan-keburukan adalah tergantung dengan kehidupan hati di dalam dirinya.

Hati yang hidup, apabila dihadapkan dengan keburukan-keburukan, dia akan lari meninggalkannya, membencinya, bahkan tidak sudi menoleh kepadanya. Berbeda dengan hati yang mati, dia tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Begitu juga dengan hati yang sakit karena syahwat, karena kelemahannya dia akan cenderung kepada keburukan yang nampak kepadanya sehingga diapun binasa.

Demikian juga, apabila cahaya hati dan sinarnya menguat, maka gambaran-gambaran hal-hal yang maklum dan hakikat-hakikatnya akan tersingkap baginya.
Kebaikan perkara yang baik dan keburukan perkara yang buruk akan nampak jelas dengan cahaya hati dan pengaruh kehidupannya.

Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi dan menyinari hati. Dia adalah ruh yang dengan-nya hati menjadi hidup. Seorang mukmin yang hatinya hidup telah Allah muliakan dengan cahaya, yang dengannya dia dapat melihat kebenaran dan kebatilan.

Orang kafir yang hatinya mati, dia tenggelam di dalam gelapnya kebodohan. Dikarenakan dia berpaling dari keta’atan kepada Allah, bodoh terhadap mengenal Allah dan mengesakan-Nya, bodoh terhadap syariat-syariat dan sunnah-sunnah-Nya, dan meninggalkan amalan yang dapat mengantarkannya kepada keselamatan dan kebahagiannya, maka kedudukannya sama seperti orang mati yang tidak dapat memberikan manfaat untuk dirinya dan tidak dapat mencegah keburukan darinya.

Apabila Allah memberikannya hidayah untuk islam, menjadikan hatinya hidup setelah kematiannya, dan menjadikannya terang dan bersinar setelah kegelapannya, maka dia dapat mengetahui hal-hal yang bermudharat dan bermanfaat bagi dirinya, dia beramal untuk menyelamatkannya dari kemurkaan Allah dan hukuman-Nya, dia dapat melihat kebenaran setelah dia buta, dia dapat mengenalnya setelah bodoh terhadapnya, dia mampu mengikuti-nya setelah dia berpaling darinya, dan dia mendapatkan cahaya yang meneranginya, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’aam: 122]

Kehidupan hati dan cahayanya hanya dapat diraih dengan menyambut panggilan Allah dan Rasul, juga menyambut apa yang telah Allah dan Rasul serukan kepadanya seperti ilmu dan keimanan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” [Al-Anfaal: 24]

Kehidupan hati dan kesehatannya tidak dapat diraih melainkan jika dia memahami kebenaran, mencarinya, dan memberikan pengaruhnya kepada orang lain.

Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami yang benar itu adalah benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya.

Hati memiliki dua kekuatan: Kekuatan ilmu dan tamyiz (membedakan) dan kekuatan iradah (kemauan) dan mahabbah (kecintaan).

Kesempurnaan hati dan kebaikannya adalah dengan menggunakan kedua kekuatan tersebut pada hal yang bemanfaat. Yaitu dengan menggunakan kekuatan ilmu untuk memahami kebenaran dan mengenalnya, serta membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Juga dengan menggunakan kekuatan iradah dan mahabbah untuk mencari kebenaran dan mencintainya, serta mendahulukan kebenaran terhadap kebatilan.

Barangsiapa yang tidak mengenal kebenaran, maka dia adalah orang yang sesat. Barangsiapa yang mengenalnya namun mendahulukan selainnya, maka dia adalah orang yang dimurkai. Sedangkan barangsiapa yang mengenalnya lalu mengikutinya, maka dia adalah orang yang diberikan kenikmatan.

Kaum muslimin lebih berhak untuk mendapatkan kebenaran, karena mereka mengenalnya dan mengikutinya.

Orang-orang Yahudi lebih berhak untuk mendapatkan kemurkaan, karena mereka adalah umat pembangkang. Mereka mengenal kebenaran namun enggan mengikutinya.

Orang-orang Nasrani lebih berhak untuk mendapatkan kesesatan, karena mereka adalah umat kebodohan. Mereka mengenal kebenaran namun tersesat darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk memohon petunjuk kepada jalan kebenaran, yaitu jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan dengan mengenal kebenaran dan mengamalkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah[4] kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[5]” (Al-Faatihah: 6-7).[6]

Seluruh manusia adalah orang yang merugi di dalam kehidupan ini. Kecuali orang yang sempurna kekuatan ilmunya dengan keimanan kepada Allah, dan sempurna kekuatan amalnya dengan mengamalkan keta’atan kepada Allah. Itulah kesempurnaan hati di dalam dirinya. Selanjutnya dia menyempurnakan orang lain dengan memberikannya nasehat dan memerintahkan hal tersebut kepadanya, serta bersabar. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr: 1-3]

Kedua kekuatan tersebut jangan sampai ditelantarkan di dalam hati. Bahkan seorang hamba harus dapat menggunakan kekuatan ilmunya untuk mengenal kebenaran dan memahami-nya. Jika tidak, dia akan menggunakannya untuk mengenal apa yang layak dan pantas bagi dirinya dari kebatilan.

Demikian juga dengan kekuatan iradah. Dia harus menggunakannya untuk mengamalkan kebenaran. Jika tidak, dia akan menggunakannya untuk mengamalkan sebaliknya (yaitu kebatilan). Tidak ada kebahagiaan, kenyamanan, kenikmatan, dan kebaikan bagi hati kecuali jika dia menjadikan Allah sebagai Ilahnya, Rabb Penciptanya, dan Dzat yang dia sembah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.[7]

Seluruh makhluk dan seluruh yang hidup (kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala), seperti malaikat, manusia, jin, hewan, atau tumbuh-tumbuhan membutuhkan Rabbnya untuk mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan mencegah apa yang memudharatinya. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali dengan mengetahui gambaran sesuatu yang bermanfaat dan sesuatu yang bermudharat itu.[8]

Manfaat adalah termasuk di antara jenis kenikmatan dan kenyamanan. Sedangkan mudharat adalah termasuk di antara jenis penyakit dan adzab.

Seorang hamba harus memiliki dua perkara:

Pertama, mengetahui apa yang disenangi dan dicari, yang dapat dia ambil manfaatnya dan dia merasa nyaman karena mendapatkannya.
Kedua, mengetahui perantara yang dapat membantu untuk meraih maksud tersebut.

Selain itu ada dua perkara yang lain:
Pertama, mengetahui apa yang dibenci, yang dapat mendatangkan mudharat.
Kedua, mengetahui perantara yang dapat membantu untuk mencegah hal tersebut.

Keempat perkara itu adalah perkara yang penting bagi seluruh hamba, bahkan bagi seluruh hewan.
Apabila hal tersebut tetap adanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia-lah yang wajib untuk dijadikan maksud yang tuju, yang diharapkan wajah-Nya dan kedekatan-Nya, dan yang dicari keridhoan-Nya. Hanya Allah yang dapat membantu untuk meraih hal tersebut.

Adapun peribadatan kepada selain Allah, menoleh kepadanya, dan bergantung dengannya adalah perkara yang dibenci dan dapat mendatangkan mudharat. Hanya Allah yang dapat membantu untuk mencegahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menggabungkan empat perkara tersebut, bukan yang lain-Nya.

Allah adalah Dzat yang disembah, yang dicinta, dan dituju. Dia-lah yang menolong hamba-Nya untuk sampai kepada-Nya serta beribadah kepada-Nya. Adapun perkara yang dibenci hanya terjadi dengan kehendak dan takdir-Nya; dan Dia-lah yang menolong hamba-Nya untuk mencegah hal tersebut darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan para makhluk untuk beribadah kepada-Nya sekaligus untuk mengenal-Nya, kembali kepada-Nya, mencintai-Nya, dan ikhlas hanya kepada-Nya.

Dengan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hati-hati mereka menjadi tenteram[9] dan jiwa-jiwa mereka menjadi tenang. Dengan melihat Allah di akhirat mata-mata mereka menjadi gembira dan kenikmatan mereka menjadi sempurna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan kepada mereka di akhirat nanti suatu yang lebih baik bagi mereka, yang lebih mereka sukai, dan yang lebih membuat mata-mata mereka gembira daripada melihat kepada wajah Allah, mendengarkan firman-Nya, dan keridhoan-Nya terhadap mereka.[10]

Allah juga tidak memberikan kepada mereka di dunia ini sesuatu yang lebih baik bagi mereka, yang lebih mereka sukai, dan yang lebih membuat mata-mata mereka gembira daripada keimanan kepada-Nya, mencintai-Nya, kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya, tenteram dengan kedekatan-Nya, dan menikmati dzikir serta beribadah kepada-Nya.[11]

Kebutuhan para hamba kepada Rabbnya di dalam peribadatan mereka kepada-Nya adalah lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada-Nya di dalam penciptaan mereka, pemberian rezeki kepada mereka, dan penyelamatan tubuh-tubuh mereka dari gangguan, karena sesungguhnya ibadah adalah akhir tujuan mereka. Tidak ada kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka tanpa ibadah tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki dari para makhluk-Nya agar mereka mengetahui perkara yang paling baik di dunia (yaitu keimanan kepada Allah) juga yang paling baik di akhirat (yaitu melihat wajah Allah), sehingga merekapun menerimanya dengan ilmu dan amal perbuatan; dan agar mereka mengetahui perkara yang paling buruk di dunia (yaitu kesyirikan kepada Allah) juga yang paling buruk di akhirat (yaitu neraka), sehingga mereka pun mewaspadai dan menghindarinya.

Sumbernya adalah hati. Apabila dia baik, maka amalan-amalan seluruh anggota tubuh akan menjadi baik. Apabila dia rusak, maka amalan-amalan seluruh anggota tubuh akan rusak pula.
Mata ini dapat melihat gambaran sesuatu dari sinar matahari tapi bukan hakikatnya, sebagai ujian dan cobaan. Tidak ada yang dapat mengetahui hakikat sesuatu kecuali hati. Hati dapat mengetahui hakikat tersebut jika di dalamnya terdapat cahaya keimanan.

Sebagaimana mata ini membutuhkan cahaya luar untuk mengetahui dan melihat banyak hal, maka demikian halnya dengan hati. Dia tidak akan mengetahui hakikat sesuatu kecuali dengan cahaya keimanan. Barangsiapa yang hatinya hitam, dia tidak akan mengetahui hakikat segala sesuatu melainkan hanya gambaran-gambaran luarnya saja.

Namun, apabila hati itu bercahaya dengan cahaya keimanan, dia akan kembali kepada Allah, sehingga diapun mencintai keta’atan-keta’atan dan membenci kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan cahaya hati, akan nampak jelas nilai harta-benda dan segala sesuatu juga nilai keimanan dan amal-amal perbuatan, sehingga tidak akan tersisa bagi seorang hamba rasa ketergantungan terhadap dunia, bahkan ketergantungannya hanya terhadap akhirat.

Cahaya keimanan di dalam hati dapat menancapkan hakikat janji dan ancaman.

Apabila hakikat janji dan ancaman datang, kita bertambah di dalam mengamalkan keta’atan, lari meninggalkan kemaksiatan, bersikap zuhud terhadap dunia, dan hanya mengharapkan akhirat.
Cahaya hati di dunia menjadi tersembunyi, namun di akhirat akan menjadi nampak bagi kaum mukminin.

Dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan mengerjakan seluruh sunnah, cahaya hati akan bertambah. Sedangkan dengan menyelisihi sunnah-sunnah, kegelapan hati akan bertambah dan berat untuk mengamalkan keta’atan-keta’atan.

Cinta kepada Allah merupakan cahaya di dalam hati dan wajah. Sedangkan cinta kepada selain Allah merupakan kegelapan di dalam hati dan wajah.

Setiap orang yang mengikrarkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka cahaya itu akan masuk ke dalam hatinya. Apabila cahaya hidayah telah masuk ke dalam hati, maka akan mudah menerapkan perintah-perintah Allah, terus melaksanakannya, menikmatinya, menyeru manusia kepadanya, dan bersabar terhadap semua hal tersebut.

Cahaya hidayah di dalam hati adalah agar seorang hamba merasa yakin bahwa yang memberi, yang mencegah pemberian, yang memuliakan, yang menghinakan, yang memberi-kan manfaat, yang mendatangkan mudharat, yang menghidupkan, dan yang mematikan hanyalah Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.

Kebutuhan-kebutuhan hati sangatlah banyak bagaikan lautan. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan tubuh bagaikan setetes air. Karena hati adalah tempatnya iman dan iman tidak memiliki batasan; dan dengan keimanan manusia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Keimanan dapat bertambah di dalam hati dengan banyaknya keta’atan, memperhatikan tanda-tanda penciptaan dan ayat-ayat Al-Qur’an, dan bersungguh-sungguh di dalam mengamalkan agama, sehingga dengan itu semua hidayah pun akan datang.

Kebatilan tidak akan pernah sirna kecuali dengan mengorbankan segala sesuatu untuk meninggikan kalimat Allah, yaitu dengan harta-benda, jiwa raga, keinginan, kedudukan, dan waktu.
Ketika umat ini enggan berkorban dengan hal-hal tersebut, maka keimanan dan keta’atan akan berkurang dan kemaksiatan akan merajalela, sehingga bencana, kerusakan, dan hukuman pun akan datang.[12]

Setan menghiasi untuk manusia nafsu syahwat yang akibatnya adalah kebinasaan. Sedang-kan para nabi memerintahkan manusia untuk beriman dan beramal shaleh yang akibatnya adalah keberuntungan.

Perhiasan hati adalah dengan keimanan; perhiasan anggota-anggota tubuh adalah dengan amal-amal shaleh; dan perhiasan manusia luar dalam dapat sempurna dengan akhlak (budi pekerti) mulia yang dengannya Allah telah mensifati nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [Al-Qalam: 4]

Tidak ada suatu apapun di alam semesta ini yang dapat menjadikan hati tenang, tenteram, dan nyaman berhadapan dengannya, kecuali Allah.

Barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah dan dengannya dia mendapatkan kenikmatan dan manfaat, maka kemudharatannya karena hal tersebut akan berlipat-lipat ganda; kedudukannya sama seperti memakan makanan beracun yang lezat.

Sebagaimana langit dan bumi, apabila pada keduanya terdapat tuhan-tuhan selain Allah, pastilah keduanya itu akan rusak binasa.[13] Maka demikian juga dengan hati, apabila di dalam-nya ada sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti dia akan rusak parah dan tidak lagi diharapkan untuk baik. Kecuali jika sesembahan itu dikeluarkan dari hatinya lalu dia menjadikan Allah satu-satu-Nya sebagai Ilahnya, Dzat Yang disembah, dan Yang dicinta.

Kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang dapat menyamainya lalu dikiaskan dengannya. Akan tetapi kebutuhan tubuh terhadap makanan, minuman, dan nafas dapat menyamainya dari beberapa segi, namun antara kedua banyak terdapat perbedaan.

Sesungguhnya hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya. Tidak ada kebaikan dan kebahagiaan baginya melainkan dengan Tuhannya yang hak, yang tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Sehingga hati itu tidak dapat merasa tenteram kecuali dengan berdzikir kepada-Nya dan tidak dapat tenang kecuali dengan mengenal dan mencintai-Nya. Walaupun jika dia mendapatkan kenikmatan dan kesenangan dengan selain Allah, maka itu tidak akan bertahan lama baginya. Bahkan seringkali kenikmatan yang dia rasakan akan menjadi sebab penyakit dan mudharat yang paling berbahaya.

Adapun Tuhannya yang hak, maka Dia akan terus bersamanya di setiap waktu, di setiap keadaan, dan dimanapun dia berada.

Beriman kepada Allah, mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya, memuliakan-Nya, dan berdzikir kepada-Nya merupakan makanan, kekuatan, kebaikan, dan kestabilan manusia.[14]

Adapun orang yang berkata, “Sesungguhnya beribadah, berdzikir, dan bersyukur kepada Allah adalah pembebanan dan kesulitan yang ditujukan hanya untuk ujian dan cobaan; atau hanya untuk menukar pahala yang dibagikan seperti saling menukar barang; atau hanya untuk melatih dan mendidik diri agar meningkat dari derajat kebinatangan.” Itu adalah perkataan orang yang memiliki sedikit bagian dari ilmu dan sedikit merasakan hakikat dan manisnya iman.

Bahkan beribadah kepada Allah, mengenal-Nya, mengesakan-Nya, dan mensyukuri-Nya merupakan penyejuk mata manusia dan kenikmatan yang paling afdhal bagi, ruh, hati, dan jiwa.

Yang dimaksudkan dari peribadatan-peribadatan dan perintah-perintah bukanlah kesulitan dan pembebanan, meskipun hal itu memang terjadi pada sebagiannya karena beberapa sebab yang mengharuskan demikian.

Perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, hak-hak yang telah Dia wajibkan kepada para hamba-Nya, dan syariat-syariat yang telah Dia syariatkan untuk mereka merupakan penyejuk mata, kenyamanan hati, kenikmatan ruh, dan kemuliaan jiwa. Padanya terdapat penyembuh hati, kebahagiannya, keberuntungannya, dan kesempurnaannya di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [Yunus: 57-58]

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menamakan perintah-perintah-Nya, wasiat-wasiat-Nya, dan syariat-syariat-Nya sebagai pembebanan. Bahkan Allah menamakannya sebagai ruh dan cahaya, petunjuk dan kehidupan, rahmat dan penyembuh, perjanjian dan wasiat, dan lain sebagainya. Adapun pembebanan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah dalam bentuk nafi (peniadaan), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” [Al-Baqoroh: 286]

Kenikmatan yang paling besar di dalam surga, yang paling afdhal, dan yang paling mulia secara mutlak adalah melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendengar firman-Nya.

Tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh kaum mukminin di dalam surga setelah mereka diberikan berbagai macam kenikmatan oleh Allah, melainkan melihat wajah-Nya.

Melihat wajah Allah lebih mereka cintai, karena dengannya mereka mendapatkan kenyaman-an, kenikmatan, kebahagiaan, kesenangan, dan kesejukan mata, melebihi apa yang mereka dapatkan dari kenikmatan makan, minum, dan bidadari. Tidak mungkin dapat membandingkan antara dua kenikmatan tersebut selama-lamanya.

Sebagaimana tidak mungkin dapat membandingkan kenikmatan yang ada di dalam surga dengan kenikmatan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian juga tidak mungkin dapat membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan mencintai Allah, mengenal-Nya, rindu kepada-Nya, dan tenteram karena-Nya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُونَ يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا.”

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penghuni surga: ((Wahai penghuni surga!)) mereka menjawab, “Kami memenuhi panggilan-Mu wahai Rabb. Seluruh kebaikan hanya ada pada kedua tangan-Mu.” Allah berfirman: ((Apakah kalian ridho –puas terhadap limpahan nikmat-Ku-?)) mereka menjawab, “Apa yang membuat kami tidak ridho terhadap-Mu wahai Rabb, padahal Engkau telah memberikan kepada kami kenikmatan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu.” Allah berfirman: ((Maukah kalian Aku berikan kenikmatan yang lebih afdhal daripada kenikmatan itu?)) mereka menjawab, “Wahai Rabb, kenikmatan manakah yang lebih afdhal daripada kenikmatan itu?” Allah berfirman: ((Aku akan limpahkan keridhoan-Ku kepada kalian, sehingga Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya.))” Muttafaqun ‘Alaih.[15]

Seluruh makhluk, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang kuat maupun yang lemah, dia tidak memiliki manfaat ataupun mudharat, pemberian ataupun penolakan, petunjuk ataupun kesesatan, pertolongan ataupun keterlantaran, penurunan ataupun pengangkatan, dan kemuliaan ataupun kehinaan bagi seorang hamba. Bahkan Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Dia-lah satu-satu-Nya yang memiliki itu semua, bukan yang lain-Nya.

Seorang hamba adalah lemah dan sangat membutuhkan orang yang dapat membelanya dari musuh dengan pertolongannya; dan dia membutuhkan orang yang dapat memberikannya manfaat dengan rezekinya, sehingga dia pun harus memiliki penolong atau pemberi rezeki. Allah-lah satu-satu-Nya Dzat yang dapat menolong dan memberikan rezeki. Dia-lah Dzat Yang Maha Pemberi rezki, Yang mempunyai kekuatan lagi Maha Kokoh.

Di antara kesempurnaan iman seorang hamba adalah dia mengetahui bahwa sesungguhnya apabila Allah menimpakan keburukan kepadanya, maka tidak ada yang dapat menghilang-kannya kecuali Dia. Apabila Allah melimpahkan kenikmatan kepadanya, maka tidak ada yang dapat memberikannya kecuali Dia.

Itu semua menuntut seorang hamba untuk bertawakal kepada Allah, meminta pertolongan dari-Nya, berdoa dan memohon kepada-Nya semata tidak kepada selain-Nya, mencintai-Nya, dan beribadah kepada-Nya. Karena Allah telah berbuat baik kepada para hamba-Nya dan melimpahkan kenikmatan-kenikmatan-Nya kepada mereka.

Apabila mereka mencintai Allah, beribadah, dan bertawakal kepada-Nya, niscaya Allah akan membukakan untuk mereka lantaran nikmatnya bermunajat, agungnya keimanan, dan berinabah kepada-Nya apa yang lebih mereka cintai, yaitu pemenuhan kebutuhan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Yunus: 107]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” [Ali ‘Imraan: 160]

Ketergantungan seorang hamba kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan penyebab kemudharatan baginya apabila dia mengambilnya lebih dari kadar kebutuhan tanpa memohon pertolongan kepada Allah untuk menta’ati-Nya.

Apabila dia memperoleh makanan, minunam, pernikahan, dan pakaian melebihi kebutuhan-nya, maka hal itu akan bermudharat baginya.

Apabila seorang hamba mencintai selain Allah apapun bentuknya, pasti Allah akan merampasnya dan memisahkannya. Apabila dia mencintainya bukan karena Allah, pasti kecintaannya itu akan bermudharat baginya dan dia akan disiksa lantaran sesuatu yang dia cintai, baik di dunia atau di akhirat, ataupun di dunia dan di akhirat sekaligus. Itulah yang sering terjadi, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” [At-Taubah: 55]

Setiap orang yang mencintai sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang kecintaannya itu bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga bukan untuk menjadikannya sebagai pembantu untuk ta’at kepada-Nya, maka dia akan disiksa karenanya di dunia sebelum hari kiamat. Apabila telah datang hari kiamat, maka Allah Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Adil akan mendekatkan setiap orang yang mencinta dengan apa yang dia cintai di dunia dulu, sehingga diapun akan berdampingan bersamanya, baik dalam kenikmatan maupun siksaan.

Orang mukmin yang mencintai kaum mukminin lainnya, dia akan berdampingan bersama mereka di dalam surga.[16] Sedangkan orang kafir yang berkumpul dengan orang-orang kafir lainnya bukan untuk keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, Allah akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di dalam neraka. Masing-masing dari mereka akan disiksa lantaran sahabatnya, dan sebagian mereka akan melaknati sebagian yang lain. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]

Dengan demikian, setiap orang yang mencintai sesuatu selain Allah, maka kemudharatan itu akan menimpanya lantaran sesuatu yang dia cintai itu, baik dia itu masih ada maupun telah tiada. Apabila sesuatu yang dicintainya itu telah tiada, maka dia akan tersiksa lantaran berpisah darinya dan akan merasa sakit sesuai dengan kadar ketergantungan hatinya kepadanya. Namun, apabila sesuatu yang dicintainya itu masih ada, maka dia akan merasa sakit sebelum mendapatkannya, merasa letih dan cape ketika mendapatkannya, dan merasa sedih setelah kehilangannya, melebihi rasa nikmat yang dia dapatkan berlipat-lipat ganda.

Ketergantungan seorang hamba kepada makhluk dan rasa tawakkal kepadanya, pasti dapat menyebabkan kemudharatan baginya dari sisinya sendiri, kebalikan dari apa yang dia harapkan. Dia pasti akan ditelantarkan dari sisi yang dia itu mampu untuk ditolong; dan dia akan dicela padahal dia itu dapat dipuji. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا كَلا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” [Maryam: 81-82]

Orang musyrik itu terkadang mengharapkan pertolongan dengan kesyirikannya, terkadang mengharapkan kemuliaan, terkadang mengharapkan kebahagiaan, dan terkadang mengharapkan puji-pujian. Bagaimana mungkin dia akan mendapatkannya?!

Karena sesungguhnya kebaikan hati, kebahagiaannya, dan keberuntungannya adalah terletak pada peribadatan kepada Allah satu-satu-Nya dan memohon pertolongan dari-Nya semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang disiksa.” [Asy-Syu’araa: 213]

Sedangkan kebinasaan hati, kesengsaraannya, dan kemudharatannya baik di dunia maupun di akhirat adalah terletak pada beribadatan kepada makhluk dan memohon pertolongan darinya. Oleh karena itu, waspadailah hal tersebut! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولا

“Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” [Al-Israa: 22]

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Kaya lagi Maha Derma, Maha Mulia lagi Maha Penyayang. Dia-lah Dzat yang berbuat baik kepada hamba-Nya sedang Dia tidak membutuh-kannya. Dia menghendaki kebaikan untuk hamba itu dan menghapus kemudharatan darinya, bukan untuk mendatangkan manfaat bagi-Nya dari hamba tersebut atau menolak mudharat, bahkan sebagai rahmat dari-Nya, serta kebaikan dan kecintaan untuknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan makhluk-Nya untuk memperbanyak harta dan mencari kemuliaan, juga tidak untuk memberikan manfaat kepada-Nya, membela-Nya, atau memberi-Nya rezeki. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]

Apa yang dimiliki oleh seorang hamba yang fakir hingga dia dapat memberi?! Apa yang diketahui olehnya tentang makhluk hingga dia dapat menolong selainnya?! Berapa umur yang dimilikinya hingga dia dapat kekal hidup?!

Sesungguhnya seorang makhluk tidak dapat mengetahui kemaslahatanmu sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenalkannya kepadanya; dia tidak mampu memberikan kemaslahatan itu kepadamu sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkannya; dan dia tidak menginginkannya sampai Allah menciptakan di dalam dirinya keinginan dan kehendak untuk hal itu.

Dengan demikian, seluruh perkara akan kembali kepada Dzat yang menciptakannya. Dia-lah Dzat yang seluruh kebaikan ada di tangan-Nya dan seluruh perkara akan kembali kepada-Nya, sehingga ketergantungan hati kepada selain-Nya merupakan mudharat murni yang tidak ada manfaat di dalamnya. Adapun manfaat yang dihasilkan lantaran ketergantungan itu, maka Allah-lah yang menakdirkannya, memudahkannya, dan menyampaikannya untukmu. Kebanyakan makhluk hanya menginginkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka darimu, walaupun hal itu akan memudharati agama dan duniamu. Mereka hanya menginginkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka walaupun dengan memudharati-mu.

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia hanya menginginkan kemaslahatan bagi dirimu; Dia ingin berbuat baik kepadamu bukan untuk kepentingan-Nya; dan Dia ingin mencegah mudharat dari dirimu. Lalu bagaimana mungkin angan-angan, harapan, dan rasa takutmu itu bergantung kepada selain-Nya?!

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi derajat-Nya lagi Maha tinggi dzat-Nya. Dia tidak ingin didekati kecuali dengan amal shaleh yang bersih lagi suci, yaitu keikhlasan yang dapat mengangkat derajat pada pelakunya, mendekatkan diri mereka kepada-Nya, dan menjadikan mereka berada di atas para makhluk-Nya.

Wahyu bagi jiwa dan hati adalah sama seperti kedudukan ruh bagi jasad. Sebagaimana jasad tanpa ruh tidak dapat hidup. Demikian juga jiwa dan hati tanpa ruh wahyu tidak dapat baik dan beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” [Al Ghaafir: 14-15]

Sesungguhya orang yang di dalam hatinya tidak terdapat cahaya keimanan, maka dia akan melihat kemuliaan dengan harta benda dan segala sesuatu, bukan dengan keimanan dan amal-amal perbuatan. Karena itu, dia akan terhalangi dari amal-amal shaleh dan hatinya akan bergantung dengan sesuatu yang fana.

Setiapkali keimanan itu lemah, maka agama akan berkurang, sehingga manusiapun akan menghadap kepada selain Allah. Beramal tanpa keyakinan adalah sama seperti jasad tanpa ruh, tidak ada manfaat di dalamnya. Keyakinan itu adalah kita meyakini bahwa seluruh kemenangan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat, berada di tangan Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.

Apabila hati-hati menghadap kepada Allah, jasad-jasad dihiasi dengan sunnah-sunnah, niscaya akan dibukakan bagi manusia pintu-pintu petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikannya petunjuk untuk menuju kepada-Nya; Allah akan memasukkannya ke dalam rumah-Nya; dan Allah akan menyibukkannya dan memperkerjakan hati dan anggota-anggota tubuhnya pada perkara-peraka yang Dia cintai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” [Asy-Syuuraa: 13]

Ya Allah, berilah kami petunjuk di antara orang-orang yang Engkau berikan petunjuk. Selamatkanlah kami di antara-orang yang Engkau selamatkan. Berilah pertolongan kepada kami di antara orang-orang yang Engkau berikan pertolongan. Perkerjakanlah lisan-lisan kami untuk berdzikir kepada-Mu dan anggota-anggota tubuh kami untuk ta’at dan beribadah kepada-Mu.

Bersambung, insya Allah…
—————————————–

Foot note:

[1]. Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah Mu’dalah: 3/919. Mausu’ah Khuthab Al-Mimbar: 1/3876.
[2]. Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.
[3]. Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
[4]. Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat Ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.
[5]. Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
[6]. Merekalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firman-Nya:
{وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا}
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisaa': 69]
[7]. Mausu’ah Khuthab Al-Mimbar: 1/2579: Al-’Abdu Baina Al-Alam wa Al-Hazan.
[8]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ}
((Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah yang Maha Kaya (Tidak memerlu-kan sesuatu) lagi Maha Terpuji.)) [Faathir: 15]
[9]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{..أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}
((Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.)) [Ar-Ra'd: 28]
[10]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}
((Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.)) [Al-Qiyamah: 22-23]
[11]. Di dalam Shahih Al-Bukhori no. 6549, diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rosulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:«إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ . يَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ . فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ . فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالُوا يَا رَبِّ وَأَىُّ شَىْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِى فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا».
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penghuni surga: ((Wahai penghuni surga!)) mereka menjawab, “Kami memenuhi panggilan-Mu wahai Rabb.” Allah berfirman: ((Apakah kalian ridho –puas terhadap limpahan nikmat-Ku-?)) mereka menjawab, “Apa yang membuat kami tidak ridho terhadap-Mu wahai Rabb, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami kenikmatan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu.” Allah berfirman: ((Aku akan berikan kalian kenikmatan yang lebih afdhal daripada kenikmatan itu?)) mereka menjawab, “Wahai Rabb, kenikmatan manakah yang lebih afdhal daripada kenikmatan itu?” Allah berfirman: ((Aku akan limpahkan keridhoan-Ku kepada kalian, sehingga Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya.))”
[12]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ}
((Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.)) [At-Taubah: 24]
[13]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ}
((Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.)) [Al-Anbiyaa': 22]
[14]. Lihat Majmu’ Al-Fatawa: 1/25.
[15]. Muttafaqun ‘Alaih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 6549. Imam Muslim no. 2829. dan lafadz ini miliknya.
[16]. Di dalam Shahih Al-Bukhori no. 6171, diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ada seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Kapankah datang hari kiamat wahai Rosulullah?” Beliau bertanya, “Apakah yang telah kamu siapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab, “Aku tidak menyiapkan banyak shalat, puasa, juga sedekah; akan tetapi aku mencintai Allah dan rasul-Nya.” Beliau menjawab, “Kamu akan berserta orang yang kamu cintai.”

Leave a Reply


7 + = eight