Menyikapi NASEHAT UMUM orang lain

Menyikapi NASEHAT UMUM1 seseorang itu sebenarnya “gampang” saja…

- Kalau isi tulisannya memotivasi kita beramal kebaikan… maka tinggal kita amalkan…

- Kalau isi tulisannya memotivasi kita meninggalkan dan menjauhi keburukan… maka tinggal kita amalkan…

- Kalau ternyata isi tulisannya “sepertinya” menyinggung kita… Maka jangan ke-Ge-eR-an dulu…

  • bisa jadi ia sedang menyinggung DIRINYA SENDIRI…
  • bisa jadi ia sedang menyinggung ORANG LAIN…

Mengapa kita su’uzhan terhadapnya?! Sehingga kita menyangka dirinya sedang menyinggung-nyinggung kita dengan nasehatnya tersebut?! Darimana kita tahu kalau dia menyinggung kita? Sudahkah kita belah hatinya, sehingga kita tahu bahwa maksud tulisannya untuk menyinggung kita? Padahal nasehatnya umum?

Bahkan jikalaupun ia bermaksud menyinggung DIRI KITA.. bukankah ia TIDAK MENYEBUTKAN secara EKSPLISIT nama kita?

Bahkan kalaupun kita ketahui secara jelas, bahwa maksud nasehatnya tersebut benar-benar ditujukan untuk kita (tapi tidak menyebutkan nama kita)…

Maka kenapa kita marah? Maka mengapa kita tidak mengambil kebaikan dari apa yang dituliskannya, dan berlarut-larut dengan kemarahan kita?

Darimanakah marah ini berasal? Apakah kita marah hanya karena hawa nafsu kita diusik?

Demikianlah… esensi tulisan terbaikan… Yang seharusnya diambil dan diterima dengan tunduk, jika ia memang merupakan kebenaran2 !?

Yang ada hanyalah full su’uzhan yang mendominasi… hingga akhirnya, tidak mau menerima kebenaran dan memusuhi orang yang menyerunya…

Hanya karena kita merasa diri kita yang sedang disinggung (padahal mungkin bukan demikian), disebabkan su’uzhann kita terhdapanya…

Atau

Hanya karena hawa nafsu kita di tegur (jika memang benar, bahwa dia memang bermaksud menyinggung3 kita) ?!!

Maka hendaknya kita mengambil kebaikan dari apa yang dituliskannya… Berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan kepadanya… karena telah “menegur” dan “menyinggung” kita… Terlepas apakah ia sedang menegur dan menyinggung dirinya sendiri, orang lain, atau memang diri kita sendiri dalam tulisannya…

Maka aku ucapkan :

“Jazaakumullaahu khayran (semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan) sebagaimana kalian telah mengingatkanku/menyinggungku dengan tulisan kalian (meski itupun, mungkin bukan tertujukan kepadaku)…

Sehingga dengan perantara kalian aku mengetahui hal yang sebelumnya tidak kuketahui, atau aku teringatkan sesuatu yang sudah aku tahu (tapi aku lalai/lupa dengannya)…

Sehingga aku semakin dapat memperbaiki amalanku (baik amalan hati, maupun anggota badan)…

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin…”

Catatan Kaki

  1. Baik nasehat itu di facebook, twitter, blog, atau selainnya
  2. Karena kebenaran datangnya dari Allaah!

    Adapun orang yang menyampaikan kebenaran, hanyalah orang-orang yang dipilih Allaah, yang dengannya melaluinya tersampaikan kebenaran tersebut!

    Jika engkau menolak, maka pada hakekatnya penolakan tersebut adalah pada Dzat Yang Maha Benar, Sang Pemilik Kebenaran (jika telah nyata bagimu apa yang disampaikannya adalah kebenaran)…

    Dan jika engkau tunduk, maka tunduklah dikarenakan engkau mengagungkan kebenaran, Allaah Yang Maha Benar, Sang Pemilik Kebenaran (jika telah nyata bagimu apa yang disampaikannya adalah kebenaran)…

    Maka hendaknya kita menerima kebenaran, sekalipun yang mengucapkan orang yang umurnya jauh lebih muda dari kita… sekalipun yang mengucapkan ilmunya jauh lebih sedikit dari kita…

    Apakah kita hendak menyombongkan diri dihadapan Allaah (dengna menolak kebenaran yang datang dariNya), hanya karena Dia memilih orang yang lebih kurang umur/ilmunya dari kita?!

    Maka hendaknya inilah yang menjadi pertimbangan kita, sebelum menolak… Dan jauhkan gengsi-gengsi! Tidaklah gengsi dalam hal seperti ini melainkan menambahkan kehinaan kepada pemilinkya, dan tidaklah ketundukan menerima kebenaran (dari siapapun kebenaran itu datang) melainkan akan mendatangkan kemuliaan bagi pelakunya… Maka camkanlah!

  3. Adapun jika kita hendak menyinggung seseorang, hendaknya kita dahului untuk menasehati dengan nasehat yang sama kepadanya secara sembunyi-sembunyi…

    Kemudian kita bawa nasehat tadi SECARA UMUM, pada orang lain (meskipun ia berada diantara orang tersebut)…

    Dikatakan SECARA UMUM… Maka hendaknya nasehat tersebut tidak kita sebutkan ciri-cirinya (sehingga menyebabkan orang lain pun TAHU bahwa yang kita maksud adalah dirinya)… Apalagi sampai menyebutkan nama orang lain secara terang-terangan! Meskipun hal ini (pada kondisi tertentu dibolehkan)… Maka hendaknya kita tetap melihat, mempertimbangkan, dan mendiskusikan (kepada yg lebih ahli); akan maslahat dan mudharat, dari penyampaian tersebut…

    Adapun bagi pembaca, hendaknya tetap menyikapi nasehat DALAM KEUMUMANNNYA tanpa mengkaitkannya dengan orang tertentu… Seabgaimana inilah yang menjadi tujuan penulisan artikel ini…

    Kecuali kalau telah NYATA dan KUAT qarinah-qarinah yang memang menunjukkan ia sedang memaksudkan orang tertentu…

    Selama kita tidak mendapatkan QARINAH YANG KUAT LAGI NYATA… Maka tidak perlu kita sangkut pautkan dengan individu tertentu… Sikapi secara UMUM, dan mengambil kebaikan dari nasehatnya…

    Ini lebih baik, daripada kita sibuk mencari-cari tahu siapakah yang dimaksud… Sehingga kita su’uzhann terhadap orang lain (tanpa adanya BUKTI NYATA dan QARINAH yang kuat yang menunjukkan padanya)… Yang malah melalaikan kita terhadap esensi nasehatnya!

Leave a Reply


+ nine = 16