Tentang Syukur

Tidak perlu diragukan lagi akan keutamaan syukur dan ketinggian derajatnya, yakni syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang datang terus beruntun dan tiada habis-habisnya. Di dalam Al-Qur’an Allah menyuruh bersyukur dan melarang kebalikannya. Allah memuji orang-orang yang mau bersyukur dan menyebut mereka sebagai makhluk-makhluk-Nya yang istimewa. Allah menjadikan syukur sebagai tujuan penciptaan-Nya, dan menjanjikan orang-orang yang mau melakukannya dengan balasan yang sangat baik. Allah menjadikan syukur sebagai sebab untuk menambahkan karunia dan pemberian-Nya, dan sebagai sesuatu yang memelihara nikmat-Nya. Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang mau bersyukur adalah orang-orang yang dapat memanfaatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Apa itu syukur?

Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran, menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”

Kata syukur ini –dijelaskan Ar-Raghib– menurut sebagian ulama berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup –(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Makna yang dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.

Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan Al-Quran:

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Ini adalah sebagian anugerah Rabb-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur

(QS An-Naml [27]: 40).

Adapun secara istilah, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan: “Syukur itu ialah taat kepada Allah Taala dengan segala anggota, zahir dan batin, baik secara diam-diam atau terang-terangan”.

Imam Abu Bakar al-Warraq mengatakan, “Syukur itu ialah mengagungkan Allah Taala yang dengan kemurahan-Nya yang mengkaruniakan nikmat kepada hamba-Nya yang tidak terhingga banyaknya dan tidak ternilai itu. Dengan itu tidaklah timbul rasa benci atau kufur”.

Para ulama lain menjelaskan: “Syukur itu ialah mengerjakan taat, zahir dan batin, kepada Allah Taala dan seterusnya menjauhi segala maksiat, zahir dan batin, dengan berusaha menjaga hati, lidah, mata, telinga dan segala anggota zahir dan batin yang lainnya supaya terdorong kepada melakukan kemaksiatan”.

Imam al-Ghazali mengatakan:

“Bersyukur itu ialah menjunjung tinggi nikmat, sakaligus mengagungkan Allah Taala. Hal ini dapat menghindarkan rasa benci atau sikap tidak mengenang budi kepada Allah. Dengan yang demikian, kita sentiasa mengingati kebaikan Allah (mengenang budi). Seterusnya, mengingati betapa wajar dan beruntungnya orang yang bersyukur dengan segala tindakan kesyukurannya dan betapa buruk dan ruginya orang yang kufur (tidak mensyukuri nikmat) dengan segala tindakan kekufurannya”.

Perintah untuk bersyukur kepada Allah

Allah memerintahkan untuk bersyukur pada beberapa ayat Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“… dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

(An-NahI: 114)

Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

(Al-Baqarah: 152)

Allah berfirman:

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“… maka mintalah rezki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.“

(Al-Ankabut: 17)

Syukur merupakan bukti penyembahan kita kepada Allah

Allah mengabarkan bahwa yang menyembah Diri-Nya hanyalah orang yang bersyukur pada-Nya. Dan siapa yang tidak mau bersyukur kepada-Nya berarti ia bukan termasuk orang-orang yang mengabdi-Nya.

Allah berfirman:

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“… dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar hanya kepada Allah saja kamu menyembah.”

(Al-Baqarah: 172)

Allah mengabarkan keridhaan-Nya terletak pada mensyukuri-Nya. Allah berfirman:

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“… dan jika kamu bersyukur niscaya Allah meridhai bagimu kesyukuranmu itu …”

(Az-Zumar: 7)

Iblis akan berusaha menghalangi manusia dari bersyukur kepadaNya

Allah mengabarkan bahwa musuh-Nya iblis yang selalu berusaha menggoda manusia agar tidak bersyukur, karena ia tahu kedudukan syukur sangat tinggi dan nilainya sangat agung, seperti yang terungkap dalam firman-Nya:

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“… kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

(Al-A’raaf: 17)

Syukur merupakan pribadi seorang mukmin

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Alangkah menakjubkannya kehidupan seorang mukmin. Sungguh seluruh kehidupannya baik. Hal itu tidak dimiliki melainkan oleh mukmin. Jika dikaruniai kebaikan; maka ia bersyukur, dan itu baik untuknya. Dan jika ditimpa keburukan; maka ia bersabar, dan itu baik untuknya”.

(HR. Muslim dari Shuhaib radhiyallahu’anhu)

Kehidupan seorang hamba di dunia bagaikan roda, kadang ia di bawah dan kadang di atas. Dalam seluruh kondisi tersebut seorang mukmin selalu dalam kebaikan. Sebab manakala posisinya di atas, ia akan menyikapinya dengan bersyukur. Dan ketika posisinya di bawah, ia akan menghadapinya dengan kesabaran. Kedua sikap tersebut; syukur dan sabar, akan menghantarkannya kepada kebaikan dan keridhaan Allah ta’ala.

Lima Landasan Syukur

Asal dan hakikat syukur ialah mengakui nikmat yang memberinya dengan cara tunduk, patuh dan cinta kepadanya. Orang yang tidak mengenal bahkan tidak mengetahui suatu nikmat ia jelas tidak bisa mensyukurinya. Demikian juga dengan orang yang mengenal nikmat tetapi tidak mengenal yang memberinya, ia tidak mensyukurinya. Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya tetapi ia mengingkarinya berarti ia mengkufurinya. Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya, mau mengakui dan juga tidak mengingkarinya, tetapi ia tidak mau tunduk, mencintai dan meridhai, berarti ia tidak mau mensyukurinya. Dan orang yang mengenal nikmat berikut yang memberinya lalu ia mau tunduk, mencintai dan meridhai serta menggunakan nikmat untuk melakukan keta’atan kepadanya, maka ia adalah orang yang mensyukurinya.

Dengan demikian jelas bahwa syukur itu harus berdasarkan lima landasan, yakni

1. Kepatuhan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri,
2. Kecintaan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri,
3. Pengakuan orang yang bersyukur atas nikmat yang disyukuri,
4. Sanjungan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri atas nikmatny,
5. Dan tidak menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang tidak disukai oleh yang disyukuri.

Kelima hal itulah yang menjadi asas dan landasan syukur. Satu saja di antaranya tidak ada maka salah satu kaidah syukur menjadi rusak.

Keutamaan Syukur

Allah menggantungkan tambahan nikmat dengan syukur. Dan tambahan nikmat dari-Nya itu tiada batasnya, sebagaimana syukur kepada-Nya.

Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”

(Ibrahim: 7)

Dengan bersyukur akan selalu ada tambahan nikmat. Ada peribahasa mengatakan, ‘Jika kamu tidak melihat keadaanmu bertambah, maka bersyukurlah.’

Iman dan Syukur akan menghalangi seorang hamba dari adzabNya

Allah membarengkan syukur dengan iman dan memberitahukan bahwa Dia tidak punya keinginan sama sekali untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“ (An-Nisaa: 147)

Berkata Syaikh Abdurrazzaaq al badr hafizhahullah: “Artinya, kalau kalian mau bersyukur dan beriman yang menjadi tujuan kalian diciptakan, maka buat apa Allah menyiksa kalian?”

Bersyukur itu disetiap keadaan

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adlaah orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah. Pada saat mendapati sesuatu yang beliau sukau maupun yang tidak beliau sukai. Disebutkan oleh Ummul Mukminin ‘Aa-isyah radhiyallahu ‘anhu:

Adalah kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat

(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua urusan menjadi baik)

Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Alhamdulillah ‘ala kulli hal“

(Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan)

[HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani].

Syukur ketika mendapat musibah

Ketahuilah, tingkatan syukur yang tertinggi apabila seseorang dapat bersyukur kepada Allah, bahkan ketika tertimpa musibah. Yaitu ketika ia ditimpa musibah, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah syukur kepada Allah, memujiNya. Dan inilah yang dicontohkan bimbingan serta panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam; sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelumnya.

Maka mengapa mereka masih bisa bersyukur kepada Allah dalam keadaan seperti ini?

1. Mereka adalah orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmatNya

Bahkan ketika mereka tertimpa musibah, mereka TIDAK LUPA akan nikmatNya. Mereka bandingkan nikmat-nikmatNya dengan cobaan yang diberikanNya, maka tahulah mereka bahwa cobaan tersebut tidaklah ada apa-apanya dibandingkan nikmat yang diberikan kepada mereka!

2. Mereka mengetahui bahwa cobaan yang mereka terima tidaklah seberapa

Jika mereka membandingkan cobaan mereka dengan cobaan yang menimpa orang lain, yang lebih berat dari mereka.

3. Mereka mengetahui bahwa segala ketatapan Allah kepada mereka adalah yang terbaik bagi mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sesungguhnya Allah tidak menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”.

(HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasan dosanya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat.”

(HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)

4. Mereka mengetahui bahwa dibalik cobaan yang menimpa mereka, ada pahala yang berlipat ganda yang menanti mereka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”

(HR. Al-Bukhariy no.5640 dan Muslim no.2572 dari ‘A`isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”

(HR. Al-Bukhariy no.5641, 5642 dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

5. Mereka mengetahui bahwa termasuk tanda kecintaan Allah terhadap hambaNya adlaah dengan memberikan mereka cobaan

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”

(HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146)

Seorang salafush shalih mengatakan bahwa ketika ia ditimpa cobaan, maka ia berpeluang mendapat empat nikmat:

- nikmat tidak ditimpakan cobaan dalam aspek keagamaan, keimanan atau aqidahnya;
- nikmat tidak dikenakan musibah yang lebih besar daripada yang dihadapinya;
- nikmat tidak dihilangkan kesabaran dan keridhaan atau kesyukuran menerima musibat yang dihadapinya;
- nikmat menunggu dan menaruh harapan mendapat pahala sebagai ganjaran daripada kemenangan dalam kesabaran dan kerelaan menerima musibah

Bahkan ulama lain berkata: “Sesungguhnya ‘kita mensyukuri nikmat Allah adalah nikmat’, maka nikmat inipun adalah sesuatu yang patut kita syukuri”

Berkata Syaikh Abu Bakr al-Warraq,

“Seorang hamba Allah itu dikehendaki bersyukur kepada Allah Taala, walau pun dia ditimpa kesusahan atau cobaan. Kerana, pada hakikatnya, kesusahaan atau cobaan itu adalah nikmat juga. Cobaan itu akan diiringi dengan kurniaan manfaat (nikmat) yang besar dan pahala yang terus mengalir, bukan saja sebagai alat tukar ganti yang sama kadarnya dengan kerugian, tetapi merupakan karunia yang berlipat ganda, jauh melebihi kadar bala (kerugian) yang kita hadapi”.

Bagaimana cara kita bersyukur?

Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

(Aali Imraan: 123)

Berkata Imam ibnu Jarir ath Thabariy tentang tafsir ayat ini:

“Maka bertaqwalah kepadaKu, yang dengannya engkau mensyukuri nikmat-Ku”

(Lihat Tafsir ath Thabariy)

Berkata Imam Ibnu Katsiir:

“Yaitu bertaqwa kepadaNya dengan melakukan taat kepadaNya”

(Lihat Tafsir ibnu Katsiir)

Syukur itu sendiri terdiri dari tiga tingkatan:

1. Bersyukur dengan hati

Yakni dengan meyakini bahwa seluruh nikmat bersumber dari Allah ta’ala. Dalam sebuah ayat Allah subhânah mengingatkan,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

Artinya: “Segala nikmat yang ada pada diri kalian (datangnya) dari Allah”

(QS. An-Nahl: 53)

Kelihatannya mempraktekkan syukur jenis ini mudah. Namun realita berkata bahwa tidak sedikit di antara masyarakat yang praktek kesehariannya membuktikan bahwa mereka masih belum meyakini betul bahwa nikmat yang mereka rasakan bersumber 100 % dari Allah ta’ala.

Contoh nyatanya: di berbagai daerah, setelah panen padi, di pojok-pojok sawah diletakkan berbagai uba rampe. Beras merah, ayam, kelapa muda dan lain-lain. Untuk siapa itu semua?? Persembahan untuk Allah kah? Atau sesaji untuk ‘pemberi pangan’; Dewi Sri?

Yang lebih miris dari itu, keyakinan akan keberadaan Dewi Sri diajarkan pula kepada anak-anak kita di sekolahan.

Di sebuah buku pelajaran sekolah tertulis “Dongeng Datangnya Dewi Sri”. Di dalamnya ada kalimat: “Semua merasa bahwa padi adalah pemberian Dewi Sri untuk bahan pangan untuk seluruh manusia. Di Pulau Jawa orang menyebutnya Dewi Sri. Di Sumatra ada yang menamakannya Putri Dewi Sri, Putri Mayang Padi Mengurai, atau Putri Sirumpun Emas Lestari.”

Innalillah wa inna ilaihi raji’un… Dongeng khayal yang merusak aqidah ternyata diajarkan kepada anak-anak kita!

2. Bersyukur dengan lisan

Yakni dengan memperbanyak mengucapkan hamdalah, sebagaimana perintah Allah ta’ala,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ

Artinya: “Katakanlah: alhamdulillah (segala puji bagi Allah)”.

(QS. Al-Isra: 111 dan an-Naml: 93)

Termasuk bentuk syukur dengan lisan; menceritakan kenikmatan yang kita rasakan kepada orang lain. Allah ta’ala memerintahkan,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya: “Adapun mengenai nikmat Rabbmu, maka ceritakanlah”

(QS. Adh-Dhuha: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَمَنْ ذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ

Barangsiapa yang menyebut-nyebut kebaikan, maka ia telah bersyukur

(HR. Ahmad; dikatakan derajatnya oleh syikh al-albaaniy dalam shahiih at-targhiib: “HASAN LI GHAYRIHI”)

3. Syukur dengan anggota tubuh,

yakni mempergunakan nikmat Allah untuk ketaatan pada-Nya bukan untuk berbuat maksiat. Syukur jenis ketiga ini amat berat, sehingga hanya sedikit yang mengamalkannya.

Allah ta’ala befirman,

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Artinya: “Wahai keluarga Dawud beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur”.

(QS. Saba’: 13)

Mata kita dipergunakan untuk membaca al-Qur’an, membaca hadits atau menelaah ilmu yang bermanfa’at; bukan untuk melihat hal-hal yang diharamkan Allah. Telinga kita dipergunakan untuk mendengarkan pengajian atau hal yang baik-baik lainnya; bukan untuk mendengarkan musik dan nyanyian maupun mendengarkan ghibah. Kaki kita pergunakan untuk beribadah kepadaNya ataupun untuk mencari nafkah; bukan untuk mendatangi tempat-tempat maksiat. Harta kita dipergunakan dijalan Allah; bukan untuk digunakan dijalan yang haram, atau yang sia-sia.

Dengan melakukan ini maka nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita akan terus bertambah dan BERBARAKAH… jika tidak, maka nikmat tersebut akan dicabut di dunia; kalaupun tidak dicabut, maka yang dicabut adalah keberkahannya; atau yang terparah, balasannya ditunda diakhirat, dimana akan disiksa karena tidak mensyukuri nikmatNya, na’uudzubillaah.

Dalam al Qur-aan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.

(QS. Ibrahim: 7)

Kiat agar kita menjadi hamba yang pandai bersyukur

1. Meminta tolong kepada Allah ta’ala agar dibantu bersyukur.

Di antara wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada Mu’adz,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ

“Wahai Mu’adz, aku wasiatkan padamu agar setiap akhir shalat tidak meninggalkan untuk membaca doa

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku agar senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.

(HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban dan al-Albani)

2. Senantiasa berusaha membandingkan kenikmatan duniawi yang kita rasakan dengan kenikmatan orang yang di bawah kita.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian; sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah”.

(HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Semoga bermanfaat

Sumber:

- Keutamaan Syukur, Syaikh Abdurrazzaaq al Badr hafizhahullaahu ta’ala
- Keajaiban Seorang Mukmin, Ustadz Abdullah Zaen hafizhahullaahu ta’ala

Leave a Reply


5 × six =