Tergesa-gesa mengikuti jejak nenek moyang (Tafsir QS. Ash-Shaaffat: 69-70)

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman -dalam kitabNya yang mulia- ketika menjelaskan keadaan kaum musyrikin mekkah:

‎ إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

(yang artinya) “…sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaaan sesat”

[Ash-Shååf-fat: 69];

Kemudian Allah berfirman:

‎فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُون

(yang artinya) “…Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu”

[Ash-Shååf-fat: 70]

Tafsir Ayat

Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullåh menafsirkan dua ayat diatas:

(adapun) firman Allåh subhanahu wa ta’ala:

‎إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

(yang artinya) “…sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaaan sesat” [Ash-Shååf-fat: 69]

Ditafsirkan Ibnu Katsiir:

Yaitu sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada mereka seperti itu (yakni neraka Jahim seperti dijelaskan pada ayat sebelumnya) sebab mereka telah mendapatkan ayah-ayah mereka dalam kesesatan kemudian mereka MENGIKUTINYA dengan TAQLID (buta), TANPA DALIL dan (TANPA) keterangan yang kuat.

Itulah sebabnya (di ayat selanjutnya) Allåh Ta’ala berfirman,

‎فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُون

(yang artinya) “…Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu”[Ash-Shååf-fat: 70]

Mujahid berkata (mengenai ayat 70 diatas): “(mereka mengikutinya) sama dengan berjalan cepat/berlari kecil”

Sa’id bin Jubair berkata: “Mereka (itu) bodoh”

[selesai kutipan dari tafsir ibnu katsir mengenai tafsir surat ash-shååf-fat: 69-70]

Pelajaran Ayat

Allah Menjelaskan Salah Satu Sebab Kekufuran Kaum Musyrikin Mekkah

Kaum musyrikin mekkah dahulu jatuh kedalam kesyirikan sebab utamanya adalah mengikuti agama ayah mereka tanpa mempertanyakan keterangan agama yang dianut ayah mereka.

Mereka taqlid buta terhadap ayahnya dengan ‘ikut-ikutan’ beragama seperti agama yang ayah mereka anut; yakni menyembah sesembahan-sesembahan lain disamping Allåh subhanahu wa ta’ala.

Dengan singkat kata; mereka beragama dengan tradisi/adat mereka, beragama dengan agama keturunan. jadi, apa yang mereka dapati dari tradisi mereka; maka itulah agama mereka.

Dan ketika Allåh subhanahu wa ta’ala mengutus RåsulNya Muhammad ‘alahi shålatu was sallaam dengan membawa HUJJAH dan keterangan yang nyata untuk membatalkan agama-agama yang baathil yang mereka anut, maka mereka TERUSIK dengan keberadaan beliau shållallåhu ‘alaihi wa sallam yang BERTENTANGAN dengan agama yang mereka anut selama ini.

Hal ini telah banyak disebutkan dalam banyak firmanNya, diantara lain:

‎أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا. إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan (yang banyak itu) menjadi Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.

[Shååd: 5]

dalam ayat lain Allah berfirman tentang perkataan mereka:

‎إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ

Sesungguhnya mereka dahulu (ketika didunia), apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah); (maka) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

(ash Shaaffaat: 35)

Allah berfirman:

‎وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) sesembahan-sesembahanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.

[Shååd: 6]

‎مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,

[Shååd: 7]

Maka keluarlah pernyataan bodoh dari mereka, sebagaimana difirmankan Allah:

‎قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا. أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

(mereka berkata) “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

[Al-Maaida: 104]

dan dalam surah al-Baqårah dijelaskan:

‎أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

…(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

[al-Baqåråh: 170]

Bahkan sebagian dari mereka berkata;

‎وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya”.

(Al-A’raaf: 28)

Maka Allåh berfirman;

‎قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji”. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

(Al-A’raaf: 28)

Allah berfirman:

‎مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

(Al-Kahf: 5)

Allah berfirman untuk meluruskan mereka:

‎مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Kamu tidak menyembah sesembahan selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

(Yusuf: 40)

Dan penyakit itu menjangkiti kaum muslimin…

Yang teramat disayangkan, perangai kaum musyrikin ini justru menjangkiti saudara-saudara semuslim kita, khususnya pada zaman ini, yang mereka amat sulit untuk diajak kepada kebenaran.

Ketika kebenaran disampaikan kepada mereka dengan HUJJAH yang nyata…

Apa jawab mereka:

“sesungguhnya apa yang kulakukan ini adalah yang dilakukan ‘wali-wali’ terdahulu…”

“sesungguhnya kiaiku/ustadz/syaikhku/imamku beramal dengan amalan seperti ini…”

Maka mereka membantah firman Allåh subhanahu wa ta’ala dan hadits-hadits shåhih Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam yang dipahami oleh para shåhabat dengan perkataan-perkataan semacam ini TANPA MEREKA SADARI.

Maka marilah kita tunduk kepada syari’at yang telah Allåh dan RåsulNya tetapkan dengan mendahulukannya dari segala pendapat manusia…

Dan kita wajib untuk memahami ketetapan-ketetapan Allåh dan RåsulNya dengan PEMAHAMAN PARA SHÅHABAT ridwanullåh ‘alaihim jami’an (dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik), bukan dengan pemahaman masing-masing [pemahaman pribadi/kelompok/jama'ah/tokoh tertentu] yang menyelisihi pemahaman mereka.

Semoga kita dilindungi dari perangai-perangai seperti ini, yang hanya akan membinasakan kita kelak di yaumil akhir. aamiin.

Wallåhu ta’ala a’lam.

2 Responses to “Tergesa-gesa mengikuti jejak nenek moyang (Tafsir QS. Ash-Shaaffat: 69-70)”

  1. syukran ya akhiiii

  2. ilmu yang bermanfaat

Leave a Reply


+ nine = 15